Boy Riza Juanda
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Samudra Meurandeh, Kota Langsa, Aceh

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Manajemen Kualitas Benih Mekanisme Ketahanan Varietas Kedelai (Glycine max (L) Merril) pada Lahan Masam Selama Fase Vegetatif Risky Ridha; Iwan Saputra; Boy Riza Juanda
Jurnal Bisnis dan Manajemen (JURBISMAN) Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Bisnis dan Manajemen (JURBISMAN)
Publisher : Penerbit dan Percetakan CV. Picmotiv

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/jurbisman.v2i1.526

Abstract

Pengembangan pertanian sangat dimungkinkan pada lahan masam, mengingat ketersediaan lahan masam yang masih sangat luas. Karakteristik tanah di bagian timur wilayah Aceh tergolong tanah-tanah masam yang memiliki potensi besar untuk pengembangan tanaman pangan seperti kedelai. Kendala utama dalam memanfaatkan tanah masam adalah konsentrasi ion-ion Aluminium (Al3+) yang tinggi sehingga menjadi toksik bagi tanaman. Perbaikan melalui tanaman dimulai dengan memahami mekanisme respon tanaman yang peka maupun toleran Aluminium. Genotipe tanaman yang adaptif umumnya mempunyai mekanisme dalam mengatasi cekaman Al. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme adaptasi secara morfologi setiap varietas kedelai selama fase vegetatif pada lahan masam, sehingga akan didapatkan varietas-varietas adaptif yang dapat digunakan dalam upaya pengembangan kedelai pada lahan masam bagian timur wilayah Aceh. Penelitian dilakukan berdasarkan percobaan yang disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari 8 varietas, yaitu Dena 1, Devon 1, Dega 1, Demas 1, Burangrang, Argomulyo, Anjasmoro dan Kipas Merah (lokal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara morfologi tingkat ketahanan kedelai terbaik pada lahan masam dari tinggi ke lemah adalah varietas Dega 1, Argomulyo, Burangrang, Devon 1 dan Kipas Merah (lokal). Mekanisme ketahanan ini disebabkan oleh adanya kecenderungan dalam kemampuan pemanjangan akar, peningkatan bobot segar akar dan tajuk, rasio panjang akar dan tinggi tanaman serta menghasilkan kandungan P tajuk yang lebih tinggi.