Sari Febriani
Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konflik Internal Dan Aliansi Politik Rama Aditya Putra; Sari Febriani
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 16 No 01 (2026): Moderasi Beragama dan Dinamika Peradaban Islam Nusantara: Integrasi Tradisi, Pe
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v16i01.186

Abstract

Kajian mengenai dinamika kekuasaan di Kesultanan Banten menunjukkan bahwa konflik internal Kesultanan memiliki peran penting dalam melemahnya otoritas politik. Pertentangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji tidak hanya mencerminkan perebutan kekuasaan, tetapi juga perbedaan orientasi politik yang membuka peluang bagi intervensi eksternal, khususnya oleh VOC. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika konflik internal Kesultanan serta mengkaji dampak aliansi politik antara Sultan Haji dan VOC terhadap perubahan struktur kekuasaan dan kedaulatan kesultanan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik internal menjadi faktor utama melemahnya stabilitas politik dan solidaritas elite di Kesultanan Banten. Aliansi antara Sultan Haji dan VOC memberikan keuntungan politik jangka pendek, namun secara bersamaan memperkuat dominasi VOC dalam mengendalikan kebijakan politik dan ekonomi, sehingga mengurangi kedaulatan kesultanan dan meningkatkan ketergantungan terhadap kekuatan kolonial. Dengan demikian, interaksi antara konflik internal dan intervensi kolonial menjadi penyebab utama kemunduran Kesultanan Banten. The study of power dynamics in the Sultanate of Banten reveals that internal Sultanate conflict played a crucial role in weakening political authority. The conflict between Sultan Ageng Tirtayasa and Sultan Haji not only reflected a struggle for power but also differences in political orientation that opened opportunities for external intervention, particularly by the Dutch East India Company (VOC). This research aims to analyze the dynamics of internal Sultanate conflict and examine the impact of the political alliance between Sultan Haji and the VOC on changes in political structure and sovereignty. The study employs a qualitative method with a historical approach, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings indicate that internal conflict became a major factor in undermining political stability and elite cohesion within the Sultanate of Banten. The alliance between Sultan Haji and the VOC provided short-term political advantages but simultaneously strengthened VOC dominance over political and economic policies, leading to a decline in sovereignty and increased dependency on colonial power. Thus, the interaction between internal conflict and colonial intervention significantly contributed to the decline of the Sultanate of Banten.
Kesultanan Siak Sri Indrapura M. Syukron Jazilah; Sari Febriani
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 16 No 01 (2026): Moderasi Beragama dan Dinamika Peradaban Islam Nusantara: Integrasi Tradisi, Pe
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v16i01.187

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Kesultanan Siak Sri Indrapura dalam peradaban Melayu dan sejarah Nusantara serta mengkaji warisan budaya yang ditinggalkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan dan dianalisis menggunakan metode historis-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesultanan Siak memiliki peran penting dalam bidang politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan. Dalam bidang politik, Siak menerapkan strategi adaptif melalui hubungan dengan kekuatan kolonial, khususnya melalui Traktat Siak 1858. Dalam bidang ekonomi, Siak menjadi bagian dari jaringan perdagangan global di Selat Malaka dengan komoditas utama seperti lada, sagu, dan hasil hutan. Dalam bidang budaya dan keagamaan, Siak berperan sebagai pusat pelestarian budaya Melayu-Islam dan penyebaran Islam yang terintegrasi dengan sistem pemerintahan. Warisan budaya berupa situs sejarah seperti Istana Siak, Masjid Raya Syahabuddin, dan Balai Kerapatan Tinggi tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga berfungsi sebagai simbol identitas dan memori kolektif masyarakat Melayu. Dengan demikian, Kesultanan Siak merupakan bagian penting dalam dinamika peradaban Melayu dan sejarah Nusantara.