Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Multikultura

DISKUSI TREN WISATA HALAL DAN NEW SOUTHERN POLICY DI KOREA SELATAN: PROMOSI, PROSPEK, DAN KONSUMERISME AGAMA Burhan, Ph.D, Amelia
Multikultura Vol. 3, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wisata halal menjadi peluang bisnis menjanjikan yang tidak bisa luput dari perhatian para pelaku industri pariwisata. Baik negara-negara Muslim maupun negara-negara non-Muslim berusaha menawarkan layanan dan produk wisata halal untuk memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim dan menjadi ‘tujuan wisata ramah Muslim’. Tak ingin melawan arus tren, Korea Selatan (selanjutnya Korea) ikut memberikan perhatian besar terhadap wisata halal. Dikarenakan kelompok wisatawan Muslim terbanyak yang datang ke Korea berasal dari Indonesia dan Malaysia, Korea telah memfokuskan wisata halalnya khususnya kepada wisatawan Muslim dari Asia Tenggara. Mengingat tujuan New Southern Policy (NSP - Kebijakan Baru ke Arah Selatan) untuk meningkatkan hubungan Korea dengan negara-negara ASEAN dan antusiasme Korea untuk mempromosikan wisata halalnya terutama pada Muslim dari Asia Tenggara, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana prospek wisata halal di Korea. Mengingat konsumerisme agama, perkembangan wisata halal Korea di masa lalu, dan penargetan wisatawan Muslim Asia Tenggara, pemberlakuan NSP berprospek dapat menyambut lebih banyak wisatawan Muslim Indonesia dan Malaysia yang dapat meningkatkan perkembangan wisata halal di Korea.
IMPAK FENOMENA HONJOK TERHADAP PERAN GENDER PEREMPUAN DI KOREA SELATAN Costrani, Sierra Nindya; Burhan, Ph.D, Amelia
Multikultura Vol. 3, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Honjok adalah bentuk gaya hidup seseorang untuk memilih hidup secara independen dan bebas dalam berkeputusan yang menyangkut kehidupannya, misalnya dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan menikmati waktu luang. Sementara itu, peran gender perempuan di Korea Selatan terus memberikan tekanan kepada perempuan seperti dalam membuat pilihan hidup untuk menikah, lalu setelah menikah untuk memiliki anak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengurus keluarga, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Honjok digunakan oleh perempuan sebagai cara untuk membebaskan diri dari peran gender perempuan di Korea Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan teknik studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena Honjok berkontribusi dalam pembebasan perempuan dari peran gender di Korea Selatan. Peran gender terhadap perempuan sangat membatasi pergerakan seorang perempuan, maka perempuan dengan gaya hidup Honjok akan lebih bebas mengembangkan dirinya karena dapat secara mandiri memutuskan segala hal untuk dirinya tanpa perlu mengindahkan ekspektasi masyarakat.
REPRESENTASI ALIENASI CODA PADA TOKOH BORI DALAM FILM KOREA BORI Ulandari, Dea Monica; Burhan, Ph.D, Amelia
Multikultura Vol. 4, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CODA or Children of Deaf Adults are the descendants of deaf parents who have the ability to hear and speak. They also have their own emotional stress because they have to adapt to two worlds, the hearing and deaf worlds. This leads to feelings of alienation which are also reinforced by external and internal factors. This research aims to find out how influential the feeling of alienation is on Bori's identity as a CODA in the Korean movie Bori. The character Bori is a CODA and the only person with hearing ability in her deaf family. The method used in this research is descriptive qualitative with a mimetic approach and alienation theory by Seeman Melvin (1959). The results show that the alienation felt by the character Bori comes from the different ways of communicating with her family and the expectations that are indirectly imposed on her and the social environment factors that do not validate her feelings of alienation as a CODA. With internal and external emotional encouragement, Bori can overcome her feelings of alienation and find her true identity.
REPRESENTASI CANCEL CULTURE DI KOREA SELATAN DALAM FILM PILOT (2024) Adani, Sharfina Rahmanita; Burhan, Amelia
Multikultura Vol. 4, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cancel culture is a social phenomenon that occurs when an individual receives public backlash due to actions or statements considered to violate social norms. This phenomenon has become increasingly prominent in South Korea, attracting attention in its highly collective and responsive digital society, which has led to its portrayal in various media works. One such work is the film Pilot (2024), which tells the story of a famous pilot's reputation falling after a gender-biased comment of his spread widely online and drew public scrutiny. This study aims to analyze the representation of cancel culture in the film Pilot (2024) using a qualitative approach with the Critical Discourse Analysis (CDA) method developed by Jäger and Maier. The analysis reveals that the film represents cancel culture as a complex social mechanism through discourse construction reflected in language, actions, and visual elements. This representation illustrates how power dynamics, gender bias, and expectations of professionalism interact to shape social consequences for individuals deemed to have committed a transgression. The film also portrays various responses to social pressure and highlights the role of social media as a primary space for shaping public opinion in the digital era.