Mardaningrat, Gede Ari Mahendra
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Manifestasi Klinis Infeksi Mpox pada Penderita HIV: Sebuah Telaah Sistematik dan Meta-Analisis Mardaningrat, Gede Ari Mahendra; Nugraha, Putu Arya; Putri, Isabella Soerjanto; Aryadi, Putu Hendri
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 11, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. Mpox is a zoonotic disease caused by the mpox virus. Sexual intercourse is the biggest cause of mpox transmission. Human immunodeficiency virus (HIV) is a viral infection that is also transmitted mostly through sexual routes. This systematic review and meta-analysis was conducted to understand the clinical picture of mpox in relation to HIV infection. Methods. This meta-analysis followed MOOSE (Meta-analysis of Observational Studies in Epidemiology) guidelines. A systematic search for relevant studies was carried out using the PubMed, EMBASE and Cochrane Library databases covering the period 1 January 2022 to 31 May 2024. The keywords used were “Clinical feature” or “Clinical Manifestation” and “MPOX” or Monkey pox and “HIV”. Results. There were 8 studies that met the inclusion and exclusion criteria for meta-analysis. Eight studies were identified with a total of 2,392 patients with and without HIV. In this meta-analysis, an analysis of each clinical manifestation appearing in patients was conducted, resulting in statistically significant findings, including lymphadenopathy (RR: 0.89; 95% CI: 0.82-0.96), perianal lesions (RR: 1.17; 95% CI: 1.01-1.37), proctitis (RR: 1.79; 95% CI: 1.37-2.35), rectal pain (RR: 1.33; 95% CI: 1.16-1.52), rectal bleeding (RR: 1.33; 95% CI: 1.16-1.52), and tenesmus (RR: 1.63; 95% CI: 1.34-1.99). Conclusions. Enlarged lymph nodes, perianal lesions, proctitis, rectal pain, rectal bleeding, and tenesmus are the dominant clinical manifestations in mpox patients accompanied by HIV infection.
KEPATUHAN PENGOBATAN TERHADAP KADAR GULA DARAH SEWAKTU PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Mardaningrat, Gede Ari Mahendra; Parining, Ketut; Utami, Made Aristia
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i01.P06

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu dari beberapa penyakit kronis yang banyak terjadi di dunia. Seseorang yang hidup dengan DM membutuhkan manajemen yang komprehensif, seperti perawatan medis, kontrol diet, dan modifikasi gaya hidup untuk mencapai tingkat kontrol gula darah yang baik. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari komplikasi dalam waktu singkat dan yang akan datang. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara kadar gula darah pasien DM Tipe II dengan kepatuhan pengobatan di Puskesmas Seririt I. Penelitian ini termasuk penelitian korelasional yang dilaksanakan sejak Juni 2023-Agustus 2023. Penelitian ini menggunakan design crossectional dengan jumlah sampel sebanyak 75 orang. Sampel dipilih dengan cara total sampling. Data dikumpulkan melalui proses tanya jawab dengan pasien, data rekam medis pasien dan melakukan pemeriksaan gula darah Ketika pasien berkunjung ke puskesmas. Data penelitian dirangkum ke dalam Microsoft Excel dan dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan bantuan aplikasi SPSS versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Puskesmas Seririt I, pasien dengan penyakit DM terbanyak ditemukan pada kelompok perempuan (64%), kelompok usia >60 tahun (49,4%), DM berasal Patemon (25,3%), dan penderita DM yang disertai komorbid hipertensi (53,3%), pengobatan DM dengan obat-obatan metformin dan glibenclamid (44%). Hasil penelitian menyatakan pasien DM memiliki tingkat kepatuhan berobat yang baik (82,7%), dan kadar gula darah normal (77,3%). Pada penelitian ini juga dilakukan uji korelasi dan didapatkan hasil yang signifikan (p < 0,05) antara kepatuhan pengobatan terhadap kadar gula darah pasien DM tipe 2. Salah satu upaya untuk mengendalikan gula darah atau mencegah komplikasi yang ditimbulkan DM adalah dengan menerapkan perilaku kepatuhan berobat bagi penderita diabetes. Kata kunci: diabetes melitus, diet, gula darah, kepatuhan, pengobatan
GAMBARAN KARAKTERISTIK DAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN TB DI PUSKESMAS SERIRIT I PADA TAHUN 2023 Mardaningrat, Gede Ari Mahendra; Utami, Made Aristia; Yuliardiani, Danik
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i09.P16

Abstract

Penyakit tuberkulosis atau TB saat ini adalah masalah kesehatan masyarakat di antara penyakit menular di dunia. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kepatuhan pengobatan dari pasien tuberkulosis di puskesmas Seririt I. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang dilaksanakan di Puskesmas Seririt I sejak Januari 2023-Juli 2023. Penelitian ini menggunakan design crossectional di mana jumlah sampel digunakan sejumlah 25 orang yang diambil menggunakan teknik sampling yaitu total sampling. Pengumpulan data bersumber dari kartu pengambilan obat-obatan TB dan rekam medis pasien. Data penelitian dirangkum ke dalam microsoft excel dan data kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan bantuan SPSS versi 16.0. Hasil penelitian berupa data karakteristik pasien dengan infeksi tuberkulosis di Puskesmas Seririt I yang menunjukkan bahwa pasien dengan infeksi tuberkulosis terbanyak pada kelompok laki-laki (80%), kelompok usia 50-60 tahun (40%), asal daerah Bubunan Buleleng 20%, TB dengan kasus baru (84%), TB tanpa adanya komorbid (80%), pasien TB yang terkonfirmasi bakteriologis (60%), lokasi infeksi TB paling banyak di paru (96%), pengobatan TB menggunakan kategori I reguler (84%) dan pauh berobat (96%). Kepatuhan pengobatan pasien TB sangat penting, dengan keteraturan pengobatan sehingga dapat tercapainya tingkat kesembuhan yang tinggi pada pasien TB dan juga menghindari adanya kekebalan dari bakteri penyebab infeksi TB terhadap obat-obatan TB. Kata kunci : karakteristik, tuberkulosis, kepatuhan.
Toksoplasmosis Serebral Pada Pasien dengan HIV/AIDS: Laporan Kasus Mardaningrat, Gede Ari Mahendra; Pramartha, Dwiputra Yogi; Darmiastini, Ni Komang
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2024): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v5i2.14312

Abstract

Background: Toxoplasma encephalitis (ET) is the most common opportunistic infection that causes encephalitis or focal cerebral lesions in HIV/AIDS sufferers which occurs in approximately 3% to 40% of patients. Case Ilustration: A 39 years old male patient was brought to the Emergency Room (IGD) with complaints of weakness in the left hand and leg for 2 days before entering the hospital. Complaints of weakness in the left hand and leg were felt suddenly when the patient was about to move, as well as headaches that seemed to be pressing in almost all areas of the head since the previous month. On physical examination, candidiasis was found in the mouth area and redness on both hands and feet. Lab examination results showed CD4 levels of 68 cells/µL and anti-toxoplasma IgG 156.10 IU/mL. CT scan of the head shows several lesions occupying space in the right and left frontal lobes, left basal ganglia, right cerebellar hemisphere. The patient was diagnosed with cerebral toxoplasmosis accompanied by stage IV HIV. Discussion: Toxoplasma encephalitis (ET) is a form of central nervous system complication in HIV/AIDS patients. This condition is the most frequent cause of focal intracerebral lesions in patients. Serological examination has an important role in establishing a diagnosis in patients with ET quality. Conclusion: Comprehensive management is the key to success in treating patients with toxoplasma encephalitis (ET) accompanied by HIV/AIDS Keyword: AIDS, CD4, HIV, Toxoplasma Encephalitis Latar Belakang: Ensefalitis toksoplasma (ET) adalah infeksi oportunistik paling umum yang menyebabkan ensefalitis atau lesi serebral fokal pada penderita HIV/AIDS yang terjadi di sekitar 3% hingga 40% pasien. Ilustrasi Kasus: Seorang pasien laki-laki berusia 39 tahun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan keluhan lemah pada tangan dan kaki kiri sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan lemah pada tangan dan kaki kiri dirasakan mendadak ketika pasien hendak beraktivitas serta nyeri kepala yang seperti tertekan di hampir seluruh area kepala sejak 1 bulan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya kandidiasis pada daerah mulut serta kemerahan pada kedua tangan dan kaki. Hasil pemeriksaan lab menunjukkan kadar CD4 68 sel/µL dan IgG anti toksoplasma 156,10 IU/mL. CT Scan kepala menunjukkan adanya gambaran beberapa space occupying lesion di lobus frontal kanan kiri, basal ganglia kiri, hemisfer cerebellum kanan. Pasien didiagnosis dengan toxoplasmosis serebri disertai dengan HIV stadium IV. Pembahasan: Ensefalitis toksoplasma (ET) merupakan bentuk komplikasi sistem saraf pusat pada pasien dengan HIV/AIDS. Kondisi ini adalah penyebab paling sering dari adanya lesi intraserebral fokal pada pasien. Pemeriksaan serologi memiliki peranan penting dalam menegakkan diagnosis pada pasien dengan kecurigaan ET. Kesimpulan: Penatalaksanaan yang komprehensif merupakan kunci dari keberhasilan dalam terapi pasien dengan ensefalitis toksoplasma (ET) disertai HIV/AIDS. Keyword: AIDS, CD4, Ensefalitis Toksoplasma, HIV