Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) melalui aplikasi e-Puskesmas di Kota Banjarmasin telah mencapai tingkat pengisian sekitar 95%, namun tingginya angka tersebut belum mencerminkan optimalnya kinerja petugas rekam medis. Permasalahan seperti rendahnya akurasi kode diagnosis, ketidaklengkapan catatan klinis, keterbatasan sarana pendukung, dan minimnya pelatihan teknis masih menjadi kendala nyata di lapangan. Menganalisis hubungan usia, pendidikan, pelatihan, ketersediaan sarana dan prasarana, serta kualitas teknologi dengan kinerja petugas rekam medis dalam penggunaan RME di Puskesmas Kota Banjarmasin. Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional cross-sectional. Populasi seluruh petugas rekam medis di 28 Puskesmas Kota Banjarmasin dengan sampel 63 responden menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur, lembar observasi checklist, dan ekstraksi data sekunder laporan kinerja Puskesmas. Analisis data meliputi univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test, serta multivariat menggunakan regresi logistik biner dengan tingkat kepercayaan 95%. Kerangka teori mengintegrasikan Teori Kinerja Gibson et al. (1996) dengan Model Human-Organization-Technology Fit (HOT-Fit) Yusof et al. (2006). Sebanyak 58,7% responden memiliki kinerja tidak baik. Analisis bivariat menunjukkan hanya pendidikan yang berhubungan signifikan dengan kinerja (p=0,026; OR=3,223; 95% CI: 1,128–9,210), sedangkan usia (p=0,637), pelatihan (p=0,707), sarana dan prasarana (p=0,502), serta kualitas teknologi (p=0,098) tidak signifikan. Analisis multivariat menghasilkan model final M₂ (AIC=83,448) dengan penambahan variabel kesesuaian pendidikan secara signifikan meningkatkan fit model (Δχ²=4,947; p=0,026). Kesesuaian pendidikan merupakan faktor paling dominan (Exp(β)=3,411; p=0,027; 95% CI: 1,153–10,088), diikuti kualitas teknologi yang menunjukkan kecenderungan positif namun belum signifikan (Exp(β)=2,740; p=0,103). Kinerja petugas rekam medis dalam penggunaan RME dipengaruhi secara simultan oleh faktor individu, organisasi, dan teknologi. Kesesuaian pendidikan formal bidang Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) merupakan faktor paling dominan, di mana petugas berlatar belakang RMIK memiliki peluang kinerja baik 3,411 kali lebih tinggi dibandingkan petugas non-RMIK setelah dikontrol oleh variabel kualitas teknologi dalam model.