Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta merupakan novel karya Luis Sepúlveda yang diterjemahkan dan diterbitkan untuk pertama kalinya di Indonesia oleh Marjin Kiri pada akhir 2005. Novel dengan judul asli Un viejo que leía novelas de amor merupakan produk kanon sastra Amerika Latin yang terbit pada 1989. Alur dalam novel menggambarkan dengan jelas bagaimana situasi masyarakat pascakolonial di Amerika Latin. Sayangnya, pembacaan pascakolonial sangat minim dilakukan terhadap teks novel terjemahan ini. Padahal pada konteks pascakolonial, kerja penerjemahan teks tidak bisa dianggap sebagai pekerjaan yang asal pilih, manasuka, bahkan tanpa muatan politis di balik layar. Apalagi jika teks yang diterjemahkan berasal dari negara-negara dunia ketiga dan/atau bekas terjajah. Penerjemah tentu akan memiliki alasan fundamental dalam memilah dan memilih sebuah teks (sastra pascakolonial) yang hendak diterjemahkan. Demikian akhirnya saya memutuskan untuk melakukan alternatif pembacaan yang bisa digunakan pada novel terjemahan ini dengan menggunakan konsep hibriditas Homi K. Bhabha. Di sisi lain, saya pun ingin melihat sejauh mana Luis Sepúlveda menggambarkan fenomena pascakolonial pada masyarakat Amerika Latin sebagai masyarakat bekas terjajah yang terepresentasikan melalui konflik-konflik dalam novelnya. Sebab realitas dalam novel adalah realitas yang dialami Luis Sepúlveda sewaktu melakukan ekspedisi bersama UNESCO selama tujuh bulan di wilayah masyarakat adat Suku Shuar di Ekuador. Artinya, membaca novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta berarti membaca bagaimana pengarang memposisikan dirinya sebagai the other dalam institusi kebudayaan yang berbeda. Lalu memahami dua konteks tersebut berarti kita mencoba untuk menyadari seperti apa kondisi masyarakat kita di Indonesia, sebagai sesama masyarakat pascakolonial.