Matheus Sariubang
Universitas Kristen Indonesia Toraja

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

USAHATANI TERPADU TANAMAN JAGUNG – SAPI POTONG Matheus Sariubang
AgroSainT Vol 1 No 2 (2010)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v1i2.352

Abstract

Masalah yang dihadapi pada sistem usahatani jagung pada lahan kering di Sulawesi Selatan adalah rendahnya tingkat kesuburan, miskin bahan organik dan kurang tersedianya air. Upaya untuk memperbaiki lahan tersebut diperlukan pupuk organik/kompos, sebab tanpa adanya pupuk organik produksi tanaman (jagung) menjadi semakin rendah, sedangkan penggunaan pupuk anorganik menurut rekomendasi/ maupun yang berlebihan tidak akan memberikan hasil yang lebih baik bahkan cenderung pemborosan dan menyebabkan menurunnya dan menyebabkan menurunnya kualitas tanah. Sulawesi Selatan juga dikenal sebagai penghasil sapi potong yang menghasilkan kotoran yang cukup banyak dan dapat diolah menjadi kompos/pupuk organik yang berkualitas. Dengan demikian kedua masalah yang dihadapi ini dapat diselesaikan secara simultan melalui sistem usahatani terintegrasi tanaman jagung – sapi potong (Crop Livestock System). Tujuan pengkajian ini adalah mensinergiskan pamanfaatan limbah pertanian tanaman jagung sebagai pakan sapi potong dan limbah sapi potong berupa kotoran dan urine dapat difermentasikan (kompos) menjadi pupuk organik yang dibutuhkan tanaman jagung. Kegiatan ini dilakukan dilahan kering Desa Lantang, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar secara “on farm research” (terintegrasi pada lahan petani) pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2004. Teknologi yang dintroduksi adalah penggunaan varietas unggul jagung (Bisma dan Lamuru) dengan perlakuan pemupukan ; pupuk organik 2 ton + 200 kg urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl dan pengolahan jerami jagung sebagai pakan melalui fermentasi dengan probiotik maupun pengomposan kotoran sapi dengan probiotik. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik pada varietas Bisma 2 ton meningkatkan hasil jerami jagung kering panen 11,364 ton dibandingkan varietas Lamuru 6,147 ton. Sedangkan penggemukan sapi bakalan selama 6 bulan dengan pakan dasar jerami fermentasi dapat memberikan pertumbuhan berat badan harian (PBBH) rata-rata 0,391 kg/ekor/hari dibandingkan menggunakan silase dan hay masing-masing 0,375 kg/ekor/hari dan 0,309 kg/ekor/hari. Analisis ekonomi sistem tanaman jagung – sapi potong dengan 3 ekor sapi dalam 1 ha selama 6 bulan menunjukkan keuntungan Rp 3.573.655 dengan B/C ratio 1,49. Dari hasil ini disimpulkan bahwa keuntungan yang didapat petani dari sistem usahatani tanaman jagung – sapi potong dapat meningkatkan pendapatan.
SINKRONISASI ESTRUS DALAM KAITANNYA DENGAN EFISIENSI REPRODUKSI PADA KAMBING Matheus Sariubang
AgroSainT Vol 2 No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v2i1.377

Abstract

Keberhasilan IB pada kambing dalam kaitannya dengan efisiensi reproduksi antara lain disebabkan kesulitan mendeteksi estrus dan adanya gejala anestrus, yang mana berpengaruh terhadap jarak beranak (kidding interval). Kesulitan mendeteksi estrus pada kambing disebabkan tanda-tanda estrus secara visual tidak begitu jelas terlihat. Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah penerapan teknologi sinkronisasi estrus. Dasar fisiologis dari teknologi ini adalah adanya hambatan pelepasan luteinizing hormone (LH) dari kelenjar hipofisa anterior yang menghambat pematangan folikel de graaf ataupun penyingkiran corpus luteum dengan pemberian preparat hormon luteolitik. Melalui penerapan teknologi ini, diharapkan kambing dapat estrus dalam waktu yang bersamaan, dikawinkan ataupun diinseminasi secara bersamaan atau hampir bersamaan, serta pada akhirnya waktu kelahiran dapat diprediksi. Pada umumnya penerapan teknologi ini pada kambing menggunakan hormon-hormon gonadotropin, progesteron, estrogen, prostaglandin dan kombinasi dari hormon tersebut. Metode pemberiannya dapat melalui oral, intra muskuler, intra vena, intra vagina maupun secara subkutan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi sinkronisasi estrus dengan hormon dapat meningkatkan keserentakan estrus dan meningkatkan angka kebuntingan hasil IB pada kambing. Dengan demikian optimasi program IB pada kambing dalam kaitannya dengan efisiensi reproduksi dapat ditingkatkan. Implikasinya adalah dengan meningkatnya efisiensi reproduksi maka produktivitas kambing akan dapat meningkat sehingga pada akhirnya diharapkan akan memberikan keuntungan pada petani/peternak.
ANALISIS PENDAPATAN PEMELIHARAAN TERNAK BABI DI KABUPATEN TANA TORAJA SULAWESI SELATAN Matheus Sariubang
AgroSainT Vol 2 No 2 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v2i2.387

Abstract

Usaha ternak babi di kabupaten Tana Toraja sangat potensial dikembangkan, karena didukung oleh sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki, kehidupan sosial budaya masyarakat serta pasar yang cukup menjanjikan. Ternak babi di daerah ini selain berfungsi sebagai kurban sembelihan bagi pelaksanaan adat dan sebagai penunjang pariwisata, juga merupakan sumber pendapatan masyarakat dan pemberi konstribusi tertinggi bagi pendapatan asli daerah (PAD) dalam bentuk Pajak Potong Hewan (PPH) sebesar ± 60%. Penelitian ini bertujuan untuk : (a) mengetahui perkembangan produksi dan permintaan ternak babi, (b) mengetahui mekanisme pemasaran yang efisien, dan (c) mengetahui sistem pengembangan produksi dan pemasaran yang mempengaruhi peningkatan pendapatan petani/peternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan produksi ternak babi 2,7% per tahun dan untuk permintaan 12,7% per tahun, margin terbesar diperoleh sebesar Rp.296.640 per ekor. Pendapatan peternak babi sangat nyata dipengaruhi oleh tingkat produksi, umur jual, harga jual dan biaya produksi (95,30%). Disimpulkan bahwa ternak babi di Tana Toraja prospektif dijadikan sebagai usaha karena dapat meningkatkan pendapatan masyarakat asalkan diiringi dengan sistem produksi dan pemasaran yang baik.
SISTEM INTEGRASI TERNAK TANAMAN BERBASIS PADI DI PROVINSI SULAWESI SELATAN Matheus Sariubang
AgroSainT Vol 2 No 3 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v2i3.700

Abstract

Pengkajian Sistem Integrasi Ternak Tanaman (SITT) berbasis padi di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone dan di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang tahun anggaran 2002-2003 melalui program P3T (Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu) dimonitoring perkembangannya sampai tahun 2006. Tujuan pengkajian adalah untuk mensinergikan pembibitan sapi potong dan tanaman padi pada lahan sawah irigasi. Teknologi fermentasi jerami padi sebagai pakan utama induk sapi dan teknologi pengomposan kotoran sapi menjadi pupuk organik yang berkualitas dikerjakan sendiri oleh petani.
Kajian Usaha Pembibitan Sapi Bali Diintegrasikan dengan Tanaman Padi Di Desa Amassangang, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang Matheus Sariubang
AgroSainT Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47178/agro.v5i1.715

Abstract

Pengembangan kawasan terpadu melalui integrasi ternak sapi dengan tanaman padi merupakan suatu langkah yang tepat dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Tujuan dari pengkajian untuk mengetahui analisis usaha pembibitan sapi bali diintegrasikan dengan tanaman padi di Desa Amassangang, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Januari 2010 sampai dengan Februari tahun 2011. Adapun perlakuannya sebagai berikut : (P1) 10 ekor induk sapi bali dipelihara dalam kandang yang diberikan pakan limbah pertanian olahan (jerami padi, jerami jagung, tongkol jagung, dedak padi, keong mas, molases dan mineral mix/pikuten); (P2) 10 ekor induk sapi bali yang dipelihara secara tradisional/digembalakan pada siang hari, dikandangkan pada malam harinya. Kotoran sapi dan urin diolah menjadi bio gas dan pupuk organik (cair dan padat). Selanjutnya pupuk yang dihasilkan diaplikasikan pada lahan sawah. Perlakuan pupuk sebagai berikut : (P1) Pemupukan dengan 500 kg/ha kompos kotoran sapi, 100 kg/ha urea dan 5 liter/ha pupuk cair. ; (P2) Pemupukan sesuai rekomendasi 150 kg/ha urea dan 300 kg/ha NPK pelangi. Parameter yang diamati adalah pertambahan berat badan harian (PBBH), konsumsi pakan, service per conseption (S/C ratio), conseption rate (keberhasilan kebuntingan), konversi pakan, dosis pemupukan, jumlah anakan produktif, hasil gabah kering panen, dan analisis keuntungan. Analisis data menggunakan R/C ratio. Introduksi teknologi Pola Integrasi ternak dengan tanaman mampu meningkatkan pendapatan petani sebesar Rp. 16.002.800,- lebih tinggi dibandingkan teknologi tradisional sebesar Rp. 3.949.200,- dan berdasarkan analisis R/C sebesar 2,61 lebih tinggi dibandingkan dengan pola tradisional sebesar 0,64 sehingga layak untuk diusahakan petani.