Sri Wahyuning Septarina
Universitas Pembangunan Jaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Semiotics of Prohibited Ornaments (Awisan) in Tamanan Ward Sri Wahyuning Septarina; Eko Wahyu Sentavito
Journal La Sociale Vol. 4 No. 6 (2023): Journal La Sociale
Publisher : Borong Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journal-la-sociale.v4i6.913

Abstract

Tamanan Ward is a relic building of the Majapahit kingdom era located in the Keraton Yogyakarta area. The existence of Tamanan Ward is supported by physical evidence, such as the sengkalan in the form of Bethara Gana or Ganesha found at the entrance of the ward and resembles Kori Agung. The Tamanan Ward building is historical evidence of cultural acculturation and depiction of royal heritage from time to time as shown by its ornaments. The ornaments in this building include: Praban motif ornaments and Putri Merong motif ornaments which are referred to as prohibited ornaments (awisan). The awisan ornament is a manifestation of the Sultan's power to organize and build palace buildings that have a broad philosophical meaning. Based on this, the two ornaments that decorate the palace buildings have aesthetic and semiotic functions as a marker. This research aims to explain the meaning and philosophy attached to awisan ornaments in Tamanan Ward through a semiotic approach. The research method used was descriptive qualitative method with data collection technique in the form of literature study through relevant books and journals. The results of this study indicated that, first, the building ornaments of Tamanan Ward were influenced by the visual identity that was present due to the power of the Sultan as King, Second, the analysis of the meaning and function of awisan ornaments can be described using a semiotic approach. Third, the Keraton Yogyakarta building is one of Indonesia's cultural assets and its existence needs to be maintained and preserved.
Komunikasi visual multikultural ornamen bangunan bangsal kencana keraton Yogyakarta Sri Wahyuning Septarina; Eko Wahyu Sentavito
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol. 10 No. 4 (2024): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020243370

Abstract

Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia, memiliki cerita historis yang panjang sejak dibangunnya bangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton Yogyakarta) dua setengah abad lalu. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dan menjelaskan tentang bagaimana mengkomunikasikan pesan visual multikultural yang disampaikan melalui ornamen pada Bangsal Kencana, Keraton Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah dan budaya. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui metode wawancara, observasi (pengamatan), dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, ornamen bangunan Bangsal Kencana dipengaruhi oleh identitas visual yang hadir karena relasi kuasa Sultan sebagai Raja. Kedua, sudut pandang makna pada setiap ornamen dipengaruhi karena perbedaan keberagaman budaya yang hadir. Ketiga, kehadiran ornamen tidak terlepas dari kondisi sosial budaya pada masanya. Saran terhadap penelitian ini adalah (1) Perlu adanya regenerasi pengetahuan dalam menggambarkan komunikasi visual multikultural melalui ornamen, (2) Upaya bersama agar bukti sejarah dalam bentuk naskah, dokumen dan manuskrip yang tersimpan di berbagai perpustakaan dapat kembali ke Indonesia.