Muhammad Asgar Muzakki
Institut Daarul Qur'an Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER (NPD) DALAM RIWAYAT PROFETIK Siti Maemunah; Muhammad Asgar Muzakki
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v9i1.2951

Abstract

Abstract: This article discusses narcissistic behavior in practicing religion as contained in prophetic history. The theme of narcissism amidst the prominence of social media can be said to be always relevant and evergreen, because narcissistic disorders can penetrate all groups. Including people who are labeled pious and diligent in worship. Interestingly, people with NPD even existed in the time of the Prophet, complete with characteristics and indicators of narcissism from modern psychology. Feeling the most right, the most entitled, arrogant, is indeed part of the “adab” chapter which is the main focus of the Islamic taching. So the Prophet taught us a way - or at least one way - to mentally forge a way to ward off the NPD disorder. Through interdisciplinary analysis that combines psychological and historical approaches, this research examines hadiths related to the NPD theme using a thematic-contextual study model. This research aims to contribute to a deeper understanding of narcissistic behavior in a religious context and offers potential solutions to reduce these tendencies.Key Words : Disorder, narcissism, humilityAbstrak Artikel ini membahas tentang perilaku narsistik dalam beragama yang termuat dalam riwayat kenabian. Tema narsisme di tengah prominennya media sosial boleh dibilang selalu relevan dan evergreen, karena gangguan narsistik bisa mempenetrasi semua kalangan. Termasuk orang yang dilabeli saleh dan rajin beribadah sekalipun. Menariknya, pengidap NPD bahkan sudah ada di zaman Nabi lengkap dengan karakteristik dan indikator narsisme dari psikologi modern. Merasa paling benar, paling berhak, angkuh, memang bagian dari bab adab yang menjadi sorotan utama agama Islam. Maka Nabi pun mengajarkan cara –atau sekurang-kurangnya salah satu cara untuk menempa mental guna menepis gangguan NPD tersebut. Melalui analisis interdisipliner yang menggabungkan pendekatan psikologi dan sejarah, penelitian ini meneliti hadis-hadis berkaitan dengan tema NPD dengan model kajian tematik-kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang perilaku narsistik dalam konteks agama dan menawarkan solusi potensial untuk mengurangi kecenderungan tersebut.Kata Kunci : Gangguan, narsisme, kerendahan hati.
ANALISA METODOLOGI KRITIK HADIS JALALUDDIN AS-SUYUTHI DALAM AL-LA’AALI AL-MASHNU’AH FI AL-AHADITS AL-MAUDHU’AJ Muhammad Asgar Muzakki
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 1 No. 1 (2020): AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.647 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v1i1.23

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kriteria hadis maudhu’ menurut Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya al-La’aali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah. Diutarakan oleh as-Suyuthi bahwa motivasi utamanya dalam menyusun kitab tersebut adalah, selain membangun kritiknya terhadap hadis-hadis palsu yang tersebar di kalangan umat Islam, juga meluruskan sebagian ‘tuduhan’ palsu terhadap beberapa hadis yang ia anggap keliru. Dengan demikian, dapat dikaji dari kitab al-La’aali; 1) kriteria hadis maudhu’ menurut as-Suyuthi dan 2) karakteristik as-Suyuthi sebagai seorang kritikus hadis. Jenis penelitian yang digunakan merupakan studi literature (library research) atau penelitian pustaka, yang semua datanya bersumber dari bahan-bahan tertulis yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan topik yang dibahas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kritik hadis, baik kritik sanad (an-Naqd al-Khariji) maupun kritik matan (an-Naqd ad-Dakhili). Adapun hadis-hadis yang menjadi sampel penelitian, dirujuk ke kitab aslinya dengan metode Takhrij al-Hadits. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria as-Suyuthi dalam menetapkan kepalsuan hadis dalam kitab al-La’aali dari segi sanad adalah; 1) perawi yang mengaku berdusta; 2) perawi yang mengaku secara implisit; 3) perawi yang dikenal sebagai pendusta; 4) perawi majhul; dan 5) perawi yang fanatik terhadap golongannya. Dan dari segi matan; 1) redaksi yang buruk; 2) memiliki makna yang rusak, tercakup di dalamnya bertentangan dengan al-Qur’an, as-Sunnah, realita dan akal sehat; 3) melebih-lebihkan pahala dan dosa terhadap amalan yang sepele; dan 4) tidak terdapat dalam kitab atau hafalan periwayat tsiqah. Penulis juga menyimpulkan bahwa as-Suyuthi termasuk ke dalam kategori mutasahil sebagai seorang kritikus hadis.