Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Klasifikasi Pasien Persalinan Caesar Menggunakan Metode Nave Bayes Berbasis Forward Selection Muh Faisal; Bahrin Dahlan; Rahmat Thaib
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 6, No 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v6i6.7143

Abstract

Abstrak - Hasil observasi di lingkungan rumah maupun kantor yakni cukup banyak ibu hamil yang akhirnya melakukan operasi caesar. Ada beberapa penyebab seorang ibu hamil melakukan caesar. Pertama, faktor kesehatan ibu. Kedua, faktor janin. Ketiga adalah faktor gabungan dari faktor ibu dan janin. Faktor-faktor tersebut menjadi indikasi apakah persalinan akan dilakukan dengan mutlak atau mungkin juga bisa menjadi relatif. Pada penelitian ini akan menerapkan metode Naive Bayes dengan optimasi forward selection untuk mendapatkan klasifikasi persalinan caesar dengan lebih optimal dimana hasil yang didapatkan penelitian sebelumnya terhadap prediksi ibu melahirkan hanya mendapat akurasi 88%. Nave Bayes merupakan pengklasifikasian dengan metode probabilitas dan statistik. Dari sembilan atribut yang digunakan yaitu Gravid Aterm, Riwayat SC, Posisi Bayi, Bayi Besar, Plasenta, Ketuban, Penyakit Ibu, Gemelli, dan Inpatu lalu dengan menggunakan algoritma Naive Bayes berbasis Forward Elimination didapatkan empat atribut weight yaitu Gravid Aterm, Bayi Besar, Ketuban dan t Gemelli dalam mengklasifikasi partus atau persalinan caesar. Secara mandiri tingkat akurasi yang dihasilkan algoritma Naive Bayes adalah 93,33 %. Sedangkan dengan menambahkan seleksi fitur Forward Elimination menghasilkan akurasi 94% dalam klasifikasi pasien persalinan Caesar. Dengan demikian, metode Naive Bayes berbasis Forward Elimination dapat digunakan sebagai metode yang lebih optimal dari penelitian sebelumnya.Kata Kunci: Nave Bayes, Forward Selection, CaesarAbstract -The results of observations in the home and office environment are quite a lot of pregnant women who end up doing cesarean sections. There are several causes of a pregnant woman doing a cesarean. First, the maternal health factor. Secondly, fetal factors. Third is the combined factor of maternal and fetal factors. These factors are an indication of whether labor will be done absolutely or maybe it can also be relative. This study will apply the Naive Bayes method with forward selection optimization to get a more optimal classification of cesarean delivery where the results obtained by previous studies on the prediction of childbirth only got 88% accuracy. Nave Bayes is a classification by probability and statistical methods. Of the nine attributes used, namely Gravid Aterm, SC History, The position of the Baby, Big Baby, Placenta, Amniotic, Maternal Disease, Gemelli, and Inpatu then using the Naive Bayes algorithm based on Forward Elimination obtained four weight attributes, namely Gravid Aterm, Big Baby, Amniotic and Gemelli t in classifying partus or cesarean delivery. Meanwhile, by adding the Forward Elimination feature selection resulted in 94% accuracy in the classification of Cesarean delivery patients. Thus, the Naive Bayes method based on Forward Elimination can be used as a more optimal method than previous studies.Keywords : Nave Bayes Forward Selection Caesar
Pengelompokan Tingkat Keaktifan Siswa dalam Mengikuti Proses Belajar di SMA Negeri 2 Tilamuta Menggunakan Metode K-Means Clustering Muh Faisal; Hamsir Saleh; Rahmat Thaib; Ismail Tolotu
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 8, No 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v8i5.9829

Abstract

Abstrak - K-Means clustering adalaha salah satu metode pengelompokan data yang sering digunakan dalam analisis data berbasis pembelajaran mesin (machine learning). Metode ini bertujuan untuk membagi data kedalam beberapa cluster berdasarkan kemiripan antar data dalam ruang multidimensi. Prose k-means dimulai dengan menentukan jumlah cluster yang diinginkan, lalu algoritma mengelompokan data secra iteratif kedalam cluster berdasarkan jarak terdekat ke titik pusat cluster (centroid), hingga posisi centroid stabil dan ada perubahan signifikan. Dalam konteks pendidikan, metode ini digunakan untuk mengelompokan siswa berdasarkan tingkat keaktifan mereka di dalam kelas atau pembelajaran. Data yang digunakan meliputi berbagai indikator keaktifan, seperti partisipasi dalam pembelajaran (diskusi dan tanya jawab), keterlibatan dalam pengerjaan tugas kelompok, pemahaman terhadap materi yang diberikan, ketertarikan pada guru bidang studi, dan juga ketertarikan pada mata pelajaran. Dengan k-means clustering, siswa dapat dikelompokan kedalam 3 kategori seperti kelompok sangat aktif, aktif dan tidak aktif. Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa sebagian vesarsiswa berada dalam cluster tidak aktif, sementara beberapa siswa lainnya tersebar di cluster aktif, dan sangat aktif. Pengelompokan ini membantu guru dalam memahami variasi tingkat partisipasi siswa dan merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk setiap kelompok. Dengan demikian, metode k-means clustering tidak hanya berguna untuk analisis data, tetapi juga dapat diimplementasikan sebagai alat pendukung dalam pembelajaran.Kata Kunci: K-Means Clustering; pengelompokan siswa; tingkat keaktifan; Pembelajaran di kelas; analisis data dan pendidikan; Abstract - K-means clustering is a popular data clustering method used in statistical analysis and machine learning. This method aims to partition data into several clusters based on similarities in a multidimensional space. The k-means process starts by determining the desired number of clusters (k), after which the algorithm iteratively groups data points into clusters based on their proximity to the nearest cluster centroid, continuing until the centroids stabilize and no significant changes occur. In the context of education, this method can be applied to group students based on their level of classroom engagement. The data used includes various indicators of engagement, such as participation in discussions, the number of questions asked, involvement in group tasks, and attendance rates. Using k-means clustering, students are categorized into several groups, including highly active, active, moderately active, and less active. The analysis results show that the majority of students fall into the moderately active cluster, while a smaller number of students are distributed across the highly active and less active clusters. This clustering helps teachers better understand the variations in student participation and design more effective instructional strategies tailored to each group. Thus, k-means clustering is not only useful for data analysis but can also be implemented as a supportive tool in crafting more targeted educational planning.Keywords: k-means clustering; student clustering; engagement levels; classroom learning; educational data analysis;