Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan salah satu upaya penting dalam meningkatkan status kesehatan bayi. Meskipun berbagai program promosi ASI eksklusif telah dilakukan, cakupan pemberian ASI eksklusif masih belum optimal. Di wilayah kerja Puskesmas Sungailiat, cakupan ASI eksklusif mengalami penurunan dari 73,2% pada tahun 2022 menjadi 50,5% pada tahun 2024. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif adalah faktor sosial budaya yang berkembang di masyarakat, seperti nilai, kepercayaan, tradisi, dan dukungan sosial yang diterima ibu menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor sosial budaya dengan perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Sungailiat Tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6–12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sungailiat sebanyak 58 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada lingkungan sosial budaya yang mendukung pemberian ASI eksklusif (67,2%) dan sebagian besar memberikan ASI eksklusif kepada bayinya (60,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sosial budaya dan perilaku pemberian ASI eksklusif (p=0,002). Ibu yang berada pada lingkungan sosial budaya yang mendukung memiliki peluang 6,283 kali lebih besar (sekitar enam kali lebih mungkin) untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang berada pada lingkungan sosial budaya yang tidak mendukung. Disimpulkan bahwa faktor sosial budaya berhubungan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui. Oleh karena itu, upaya peningkatan cakupan ASI eksklusif perlu memperhatikan aspek sosial budaya masyarakat melalui keterlibatan keluarga, tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan tenaga kesehatan. Temuan ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan program promosi ASI eksklusif yang lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat