This Author published in this journals
All Journal Explore
Aryaguna Abi Rafdi Yasa
Braincore Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Implementasi Speech Recognition Whisper pada Debat Calon Wakil Presiden Republik Indonesia Roissyah Fernanda Khoiroh; Eric Julianto; Safrizal Ardana Ardiyansa; Haidar Ahmad Fajri; Aryaguna Abi Rafdi Yasa; Brian Sangapta
Explore Vol 14 No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Universitas Teknologi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35200/ex.v14i2.115

Abstract

Negara Republik Kesatuan Indonesia (NKRI) memiliki sistem pemerintahan demokrasi, sehingga warga negara Indonesia bebas menggunakan hak pilih mereka dalam menentukan kandidat wakil presiden. Hak pemilih ini telah dijamin dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 tentang hak konstituional pemilu. Pemilu 2024 memiliki sejumlah 204.807.222 pemilih yang sudah ditetapkan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang didominasi oleh generasi milenial dan generasi Z. Generasi muda tersebut membutuhkan informasi yang cukup untuk mengetahui visi dan misi, serta gagasan para kandidat. Visi dan misi harus dapat tersampaikan dengan baik, agar mereka dapat memilih dengan bijak. Terdapat faktor yang mengakibatkan gagasan mereka tidak tersampaikan dengan baik, seperti penggunaaan kalimat yang asing dan tidak baku, serta gangguan dari lingkungan sekitar. Salah satu solusi permasalahan ini adalah dengan penggunaan model speech recognition secara otomatis. Whisper merupakan model speech recognition yang mampu mendeteksi suara dengan baik. Whisper memiliki tingkat akurasi sebesar 95,19% pada gagasan Muhaimin, 96,71% pada gagasan Gibran, dan 87,16% pada gagasan Mahfud. Whisper juga mampu mengenali frekuensi penggunaan kata-kata yang disampaikan oleh ketiga kandidat. Berdasarkan frekuensi kata yang ditekankan, dapat diinterpretasikan bahwa Muhaimin ingin membangun kedekatan dan keterbukaan terhadap masyarakat Indonesia, serta berfokus pada isu-isu pembangunan ekonomi, sedangkan Gibran menekankan bahwa dia ingin memberikan perhatian dan ruang bagi kaum muda untuk berkembang, dan Mahfud ingin berfokus pada fasilitas, program kerja, serta menyelesaikan isu ekonomi.