Juliandri Saputra
Universitas Sains dan Teknologi Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Perbandingan Efektivitas Metode Fuzzy C-Means dan K-Means dalam Mengelompokkan Buku Berdasarkan Frekuensi Peminjaman di Perpustakaan SMKN 1 Mandau Juliandri Saputra; Muhammad Iqbal Al Aksha; Lily Maryani; Gilang; Rahmaddeni
Explore Vol 14 No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Universitas Teknologi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35200/ex.v14i2.121

Abstract

This research investigates and compares the effectiveness of two data grouping methods, namely Fuzzy C-Means (FCM) and K-Means, in grouping books based on borrowing frequency in the SMKN 1 Mandau Library. The data used is a track record of book borrowing during a certain period. This analysis aims to evaluate the most suitable method for grouping books based on their borrowing patterns. The FCM method is used to consider uncertainty in grouping, while K-Means prioritizes certainty in group division. The results of the analysis can provide deeper insight into reading preferences in libraries, as well as help library managers in designing book placement strategies that are more effective and responsive to different borrowing patterns. The results of the comparison between K-Means and Fuzzy C-Means in grouping subjects based on borrowing frequency at the SMKN 1 Mandau Library show that K-Means has an SSE of 162,083, indicating good centralization of data in its clusters by grouping subjects into two clusters separated. On the other hand, Fuzzy C-Means shows a centroid with a value of [116.03, 136.52], indicating a more flexible approach with varying degrees of membership for each cluster, and a cluster pattern similar to K-Means. Although K-Means is slightly faster in execution with 0.0031 seconds compared to Fuzzy C-Means which requires 0.0032 seconds, both show almost the same time efficiency. Overall, Fuzzy C-Means is proven to be more effective based on centroid value evaluation in handling data with different degrees of membership, while both K-Means and Fuzzy C-Means provide consistent clustering results and can be considered according to the needs of book lending data analysis in the library of SMKN 1 Mandau.
Model Klasifikasi Penerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) Menggunakan Algoritma Naïve Bayes Berbasis Data Sosial Ekonomi : Model Klasifikasi Penerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) Menggunakan Algoritma Naïve Bayes Berbasis Data Sosial Ekonomi Gunadi; Juliandri Saputra; Edi Purwanto
FORMAT Vol 15 No 2 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/format.2026.v15.i2.001

Abstract

Program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian bantuan pangan kepada keluarga yang memenuhi kriteria tertentu. Permasalahan yang masih sering dihadapi dalam penyaluran BPNT adalah ketidaktepatan sasaran akibat proses seleksi penerima yang masih bergantung pada penilaian manual sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan inklusi maupun eksklusi. Penelitian ini bertujuan menerapkan algoritma Naïve Bayes untuk menentukan kelayakan penerima BPNT berdasarkan data sosial ekonomi masyarakat. Data yang digunakan berasal dari basis data Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) Kabupaten Rokan Hulu tahun 2024 sebanyak 2.055 data rumah tangga yang mencakup berbagai atribut demografi, sosial, dan ekonomi. Metode penelitian meliputi tahapan pengumpulan data, praproses data, pembentukan model klasifikasi menggunakan algoritma Naïve Bayes, serta evaluasi kinerja model menggunakan confusion matrix dan nilai akurasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SMOTEN dan optimasi parameter pada algoritma Naïve Bayes mampu meningkatkan kemampuan model dalam mengenali kelas penerima BPNT yang memiliki jumlah data lebih sedikit. Peningkatan nilai recall dari 53,33% menjadi 60,00% menunjukkan bahwa model lebih sensitif dalam mengidentifikasi rumah tangga yang berpotensi layak menerima bantuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dihasilkan layak digunakan sebagai pendukung keputusan dalam proses identifikasi penerima BPNT berbasis data sosial ekonomi.