Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Program Skrining Keliling Tekanan Darah Sebagai Langkah Awal Deteksi Dini Hipertensi di Dusun Badengan, Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Banyuwangi Melati Octavia Febriana; Septa Indra Puspikawati; Diansanto Prayoga; Avila Abilia; Firrial Eksa; Uyun Loveni; Anggi Margareta; Putri Nur; Oktario Dinansa; Nafkha Nisa; Lailatu Rohmah; Imelda Damayanti; Muhamad Isa; Fertika Nanda
Abdimas Universal Vol. 6 No. 1 (2024): April
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Balikpapan (LPPM UNIBA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/abdimasuniversal.v6i1.407

Abstract

Hypertension is one of the most prevalent NCDs. The importance of controlling NCDs is due to the high incidence and mortality rates. NCD control is better with early prevention, especially in Kluncing Village, Licin District, Banyuwangi.. One of the early prevention is the existence of the Blood Pressure Mobile Screening Program as an Early Step for Early Detection of Hypertension in Badengan Hamlet, Kluncing Village, Licin District, Banyuwangi. The goal of this program is to focus on early detection of hypertension and enable earlier identification of cases. Early detection is crucial to prevent serious complications that can arise from hypertension, such as heart disease and stroke. In addition, by bringing screening services closer to the community, this program can improve the accessibility of health services. The method of implementation begins with program planning, problem identification, priority determination, causes of problems, alternative solutions, preparation of a proposed plan to plan implementation. This program is implemented through door to door screening using blood pressure and education about hypertension, as well as involving the Licin Health Center in handling people with hypertension. Based on the results of blood pressure measurements, 91 people (28%) had normal blood pressure, 153 people (46.5%) had prehypertension, 60 people (18%) had grade 1 hypertension, and 25 people (7.5%) had grade 2 hypertension. In its implementation, the performance indicator has reached the target of 52.55% or 329 community members who were screened for hypertension by measuring blood pressure. This shows that the hypertension screening program is running effectively and achieving its goal of detecting hypertension in the community.
Gerakan Aksi Nyata Program “Ayo, Tanam Seledri Sebagai Bentuk Pencegahan Hipertensi!” di Desa Kluncing, Licin, Banyuwangi Nafkha Nisa Nabila; Septa Indra Puspikawati; Diansanto Prayoga; Avila Abilia; Firrial Eksa; Imelda Damayanti; Anggi Margareta; Putri Nur; Uyun Loveni; Melati Octavia; Lailatu Rohmah; Oktario Dinansa; Muhamad Isa; Fertika Nanda
Abdimas Universal Vol. 6 No. 1 (2024): April
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Balikpapan (LPPM UNIBA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/abdimasuniversal.v6i1.436

Abstract

Hypertension is a significant health issue in Indonesia, with a growing prevalence. Some individuals still lack attention and support for hypertension prevention. The “Let's Plant Celery for Hypertension Prevention” movement in Kluncing Village aims to address this problem. The purpose of this program is to empower the community to plant celery as one of the plants that can prevent hypertension. The community service approach was employed, beginning with problem identification and priority determination, and concluding with program implementation. Socialization efforts were undertaken to educate the community about the benefits of celery and the process of planting it. Over 100 celery seedlings were distributed to the community and regularly monitored. Observations showed that celery growth reached its peak in the fifth week, with an average height of 4.39cm. During the sixth and seventh weeks, the celery continued to grow well, reaching an average height of 3.56cm and 3.39cm, respectively. By the end of the seventh week, the celery had reached maturity, with an average height of 27.20cm, indicating that the plant had fully matured. This program is a concrete step towards preventing hypertension and improving public health, with the active participation of the community. Sustainable practices in celery planting and consumption are expected to continue in Kluncing Village to obtain optimal health benefits in the prevention of hypertension.
STRATEGI PENDIDIKAN SEKSUAL ANAK USIA DINI DALAM MENCEGAH KEKERASAN SEKSUAL DAN PERILAKU MENYIMPANG Novita budiarti; Lailatu Rohmah; Sembodo Ardi Widodo
Hamka Ilmu Pendidikan Islam Vol. 6 No. 01 (2026): edisi july 2026
Publisher : Hamka Ilmu Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak yang menjadi perhatian serius di berbagai lingkungan, termasuk keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemberian pendidikan seksual sejak usia dini sebagai upaya preventif untuk membekali anak dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan seksual serta mencegah munculnya perilaku menyimpang. Namun, implementasi pendidikan seksual pada anak usia dini masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya pemahaman pendidik dan orang tua, anggapan bahwa pendidikan seksual merupakan hal yang tabu, serta belum optimalnya strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pendidikan seksual anak usia dini dalam mencegah kekerasan seksual dan perilaku menyimpang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Sumber data terdiri atas kepala sekolah, guru, orang tua, peserta didik, serta dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan seksual di lembaga PAUD. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pendidikan seksual pada anak usia dini dilaksanakan melalui pengenalan bagian tubuh dan fungsinya, pembiasaan menjaga kebersihan dan privasi tubuh, penanaman konsep sentuhan yang aman dan tidak aman, pembelajaran mengenai batasan tubuh (body boundaries), pembiasaan mengatakan "tidak" terhadap perilaku yang tidak pantas, komunikasi yang terbuka antara guru, orang tua, dan anak, serta penguatan nilai-nilai agama dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Strategi tersebut terbukti mampu meningkatkan kesadaran anak dalam menjaga diri, mengenali situasi yang berpotensi membahayakan, serta membentuk perilaku yang sesuai dengan norma agama dan sosial sehingga berkontribusi dalam mencegah kekerasan seksual dan perilaku menyimpang sejak usia dini. Kata Kunci: Pendidikan Seksual Anak Usia Dini, Kekerasan Seksual, Perilaku Menyimpang, Strategi Pencegahan.