Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pandangan Hakim Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Ponorogo tentang Perkawinan Beda Agama Silachi Agusta Adi Putra
Rechtsvinding Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/rechtsvinding.v1i2.298

Abstract

AbstractPerkawinan beda agama merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat 1: “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”, dan pasal 8 huruf f : “Perkawinan dilarang antara dua orang yang mempunyai hubungan yang agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin”. Perkawinan beda agama sah dan dapat dilangsungkan karena telah tercakup dalam perkawinan campuran, sebagaimana termaktub dalam pasal 57 Undang-undang Perkawinan. Yang terakhir bahwa perkawinan antar agama sama sekali tidak diatur dalam Undang-undang No 1 Tahun 1974. Dengan rumusan masalah yang diambil dari latar belakang di atas adalah bagaimana pandangan hakim Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Kabupaten Ponorogo mengenai perkawinan beda agama dan dampak akibat hukumnya. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui argumentasi hakim Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Kabupaten Ponorogo mengenai Perkawinan Beda Agama Dan Dampak Akibat Hukumnya. Sampai saat ini Perkawinan Beda Agama tetap menjadi problematika, kurangnya pemahaman agama bagi masyarakat dan lemahnya iman membuat seseorang melakukan perkawinan beda agama. Didalam agama Islam, salah satu penyebab seseorang tidak bisa mendapatkan harta waris ( terputusnya hak warisnya ) yaitu perbedaan agama antara pewaris dengan ahli waris.
Pengenalan dan Pemanfaatan Potensi Lokal: Pendampingan Pembuatan Brownie X Nangka sebagai Produk Khas Desa Sahang Andriana Tina Putri Dewi Anggraini; Silachi Agusta Adi Putra
Social Science Academic SPECIAL ISSUE: Membangun Desa Melalui Pemberdayaan SDM
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problem in Sahang Village is that jackfruit, which is abundant, is only used in traditional ways with low economic value. From this problem, the research formulates two main focuses: how the process of making Brownie x Jackfruit as a local food innovation, and what factors support or hinder its development. The purpose of this research is to know, explore, and describe the potential of jackfruit, the innovation process, and the prospects of the product as a village culinary icon. The study employed the Asset Based Community Development (ABCD) approach through the stages of discovery, dream, design, and define/deliver, with data collected from interviews, participatory observation, focus group discussions (FGD), documentation, and product trials, then analyzed qualitatively using data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results show that Brownie x Jackfruit is well received by the community and adds value to local products, but still faces challenges such as limited equipment, packaging, and marketing strategies. Even so, the product has strong potential to support the local economy, empower the community, and strengthen the cultural identity of Sahang Village.