Grace Kapantow
Bagian Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi / RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SATU KASUS DERMATOSIS PUSTULAR SUBKORNEAL YANG DITERAPI DENGAN KORTIKOSTEROID Hyacintha Puspitasari Budi; Dwi Martina Trisnowati; Shienty Gaspersz; Grace Kapantow; Meilany Durry
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 1 (2023): Media Dermato-Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v49i4.269

Abstract

Pendahuluan: Dermatosis pustular subkorneal (DPS) atau sneddon-wilkinson disease adalah suatu kelainan kulit berupa erupsi pustular, dengan gambaran histopatologi berupa pustul subkorneal dengan banyak neutrofil. Penyebabnya masih belum diketahui, infeksi dan mekanisme autoimun diduga menjadi faktor pemicu. Terapi utama DPS adalah dapson, namun beberapa kasus berespon terhadap kortikosteroid dosis tinggi. Kasus: Laki-laki berusia 60 tahun dengan keluhan bintil-bintil bernanah disertai gatal hampir di seluruh tubuh sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Riwayat konsumsi obat sebelumnya disangkal. Riwayat oles daun herbal (+). Status dermatologis ditemukan pustul multipel diatas makula eritematosa. Pemeriksaan histopatologi mendukung diagnosis dermatosis pustular subkorneal. Pasien menunjukkan adanya perbaikan setelah diterapi dengan kortikosteroid sistemik dan topikal. Diskusi: Awalnya, pasien diterapi dengan kortikosteroid injeksi 31.25 mg namun karena masih ada lesi baru, dosis dinaikkan menjadi 62.5 mg kemudian ditapering off setiap 3 hari sebanyak 12.5 mg dan menunjukkan perbaikan. Pasien juga diberikan kortikosteroid topikal poten yang diturunkan potensinya setelah menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan. Kesimpulan: Telah dilaporkan satu kasus dermatosis pustular subkorneal (DPS) pada seorang laki-laki berusia 60 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan histopatologi. Pasien diberikan terapi kortikosteroid dan menunjukkan adanya perbaikan selama kurang lebih 4-5 minggu.