Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EVALUASI TINGKAT KERUSAKAN PERKERASAN LENTUR DENGAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX PADA RUAS JALAN BATAS KOTA BITUNG - KAUDITAN Richard Uguy; Michelle Karundeng
Jurnal Ilmiah Realtech Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Katolik De La Salle Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52159/realtech.v16i1.58

Abstract

Jalan merupakan sebuah infrastruktur yang dibangun untuk mendukung pergerakan kendaraan dari satu tempat ke tempat lainnya dengan tujuan yang berbeda-beda. Saat ini, sering ditemukan kerusakan pada infrastruktur jalan, baik jalan lokal maupun jalan arteri. Sering kali umur jalan di lapangan tidak sesuai dengan umur jalan yang sudah direncanakan. Mempertimbangkan manfaat jalan yang sangat penting, maka hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan dan pemeliharaan jalan merupakan prioritas yang perlu diteliti dan dikembangkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis dan tingkat kerusakan pada permukaan jalan, serta menentukan metode perbaikan yang sesuai berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan yang terjadi. Metode PCI (Pavement Condition Index) adalah metode yang digunakan pada penelitian ini. Penerapan PCI dilakukan dengan tahapan survei visual di lokasi penelitian, mengidentifikasi jenis dan tingkat kerusakan, mengukur dimensi kerusakan yang meliputi panjang, lebar dan kedalaman, menghitung luas kerusakan, serta menganalisis kondisi kerusakan. Penelitian ini dilaksanakan di ruas jalan batas Kota Bitung - Kauditan. Berdasarkan hasil penelitian, jenis kerusakan yang terjadi pada ruas jalan batas Kota Bitung - Kauditan adalah retak refleksi sambungan, retak memanjang melintang, jembul dan lekukan, ambles/depresi, pemuaian, pelepasan butir, kerusakan tambalan, lubang, sungkur, dan kegemukan. Permukaan jalan batas Kota Bitung - Kauditan diklasifikasikan sebagai tingkat kerusakan dengan nilai PCI 92,54924. Perbaikan yang tepat adalah pemeliharaan rutin.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PEKERJAAN PENGECORAN PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG RSUD KOTA MANADO Richard Uguy; Michelle Karundeng
Jurnal Ilmiah Realtech Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Katolik De La Salle Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52159/realtech.v16i2.65

Abstract

Pekerjaan konstruksi adalah pekerjaan yang meliputi pembangunan, pemeliharaan, perawatan, pembongkaran dan pembangunan kembali baik keseluruhan atau sebagian pekerjaan dalam bidang pekerjaan gedung maupun pekerjaan jalan dan jembatan. Di Indonesia bidang konstruksi menjadi salah satu pekerjaan yang perkembangannya sangat besar sehingga membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia. Setiap proyek konstruksi memiliki kompleksitas tinggi dan membutuhkan kerja sama dari pihak terkait agar proyek tersebut berhasil. Biasanya, setiap proyek memiliki rencana dan jadwal pelaksanaan, kapan proyek harus dimulai dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Untuk mencapai tujuan proyek harus diperhatikan tiga aspek yaitu biaya, kualitas dan waktu. Ketiga aspek ini harus diperhatikan saat membuat rencana proyek konstruksi, dan perkiraan yang dibuat saat membuat rencana konstruksi harus dijadikan acuan. Seiring berjalannya waktu, terjadi ketidaksesuaian antara rencana yang direncanakan dengan pelaksanaan di lapangan, sehingga dampak yang terjadi adalah keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang disertai dengan peningkatan biaya pelaksanaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan pekerjaan pengecoran, serta menentukan solusi yang sesuai bagi masalah keterlambatan tersebut. Pekerjaan pengecoran adalah pekerjaan menuangkan beton segar ke dalam cetakan elemen struktur yang telah dipasang tulangan baja. Sebelum pekerjaan pengecoran, inspeksi pekerjaan harus dilakukan untuk memastikan bahwa bekisting dan tulangan telah dipasang sesuai rencana.Penelitian ini dilaksanakan di proyek pembangunan RSUD Kota Manado. Berdasarkan hasil penelitian, penyebab keterlambatan pekerjaan pengecoran adalah kurangnya tenaga kerja, faktor cuaca (hujan), kerusakan alat, kurangnya material, truk readymix yang terlambat datang, dan kesalahan pada saat proses pengerjaan. Solusi yang direkomendasikan adalah perencanaan manajemen resiko yang baik, pemilihan supplier pengecoran harus mempertimbangkan track record supplier, serta pengawasan pekerjaan para pekerja .
EVALUASI PERILAKU TENAGA KERJA DAN PENGGUNAAN ALAT PERLINDUNGAN DIRI DALAM PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG RSUD KOTA MANADO Richard Uguy; Michelle Karundeng
Jurnal Ilmiah Realtech Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Katolik De La Salle Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52159/realtech.v17i1.66

Abstract

Penyediaan alat perlindungan diri merupakan hak dari para pegawai dan kewajiban bagi pihak manajemen K3 suatu konstruksi. APD memiliki peran yang sangat penting dalam hal perlindungan para pekerja atau pegawai. Suatu keadaan pada suatu lingkungan kerja merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaankerja di lingkungan tersebut, oleh sebab itu diperlukan pengawas bagian K3 untuk mengawasi pekerja dalam melakukan pekerjaannya dan perlu pengarahaan betapa pentingnya penggunaan APD. Pemakaian alat perlindungan diri (APD) dilakukan agar para pekerja dapat terhindar dari cidera/kecelakaan. Kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan cidera termasuk dalam ilmu kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Penggunaan APD yang disiplin dan tepat memberikan perlindungan secara optimal penggunanya, maka dari itu APD sangat berperan penting dalam sistem K3 yang baik. Penggunaan APD dapat meminimalisir potensi terjadinya suatu kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi/penerapan K3 pada bagian alat perlindungan diri dalam pelaksanaan pembangunan gedung RSUD kota Manado apakah sudah dilaksanakan semaksimal mungkin. Penelitian ini dilakukan pada proyek pembangunan Gedung RSUD Kota Manado. Berdasarkan hasil penelitian hanya 55% pekerja yang menggunakan APD secara lengkap, 55% termasuk dalam kategori cukup untuk implementasi alat perlindungan diri dalam proyek pembangunan RSUD kota Manado. Sehingga, perusahaan dan pengawas harus lebih memperhatikan dan menegur pekerja yang tidak menaati aturan penggunaan alat perlindungan diri.