Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE EFFECT OF INTRADIALYTIC EXERCISE ON INTRADIALYTIC HYPERTENSION IN CHRONIC KIDNEY FAILURE PATIENTS UNDERGOING HEMODIALYSIS AT RSUD DR. ADJIDARMO RANGKASBITUNG Siti Sindi; Bangun Wijonarko; Andi Sudrajat
Journal of Noncommunicable Diseases Prevention and Control Vol. 4 No. 1 (2026): Journal of Noncommunicable Diseases Prevention and Control
Publisher : Hypertension Prevention and Control Research Center, The Polytechnic of Health of Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61843/jondpac.v4i1.979

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) results in the failure to excrete body waste. Hemodialysis, the primary treatment, often triggers intradialytic hypertension. One non-pharmacological solution to manage this condition is intradialytic exercise. To determine the effect of intradialytic exercise on intradialytic hypertension in chronic renal failure patients undergoing hemodialysis. Quantitative research with Quasi Experimental design (Pretest-Posttest with Control Group).  In the intervention group, there was a significant decrease in blood pressure after intradialytic exercise. The mean systolic blood pressure decreased from 159.55 mmHg to 145.73 mmHg, and diastolic blood pressure from 97.82 mmHg to 83.27 mmHg with a p value = 0.000 (<0.05). Meanwhile, the control group had a mean pre-systolic blood pressure of 168.45 mmHg and pre-diastolic blood pressure of 91.64 mmHg, while post-systolic blood pressure was 169.36 mmHg and post-diastolic blood pressure was 96.82 mmHg with a p value = >0.05. Intradialytic exercise has been proven to be effective in lowering blood pressure in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis in the Hemodialysis Room at RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung.
TINDAKAN MANAJEMEN ELIMINASI URINE PADA PASIEN POST OPERASI BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH) DI RSUD dr. DRAJAT PRAWIRANEGARA TAHUN 2023 Tuti Sulastri; Andi Sudrajat; Ira Maulidyawati
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v4i2.21074

Abstract

Gangguan eliminasi urine adalah disfungsi eliminasi urin (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,2017). Gangguan eliminasi urine juga bisa dialami oleh pasien post operasi BPH (Benigna Prostat Hiperplasia) atau istilah lainnya pembesaran prostat jinak. Menurut Satryo Prayoga, Nunu Harison, Hetty Pusfita (2022) diambil dari data (Kemenkes RI, 2021) kasus di Indonesia, Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) merupakan urutan kedua setelah batu saluran kemih dan diperkirakan ditemukan pada 50% pria berusia diatas 50 tahun. Biasanya orang yang mengalami BPH akan dilakukan operasi pembedahan yang bernapa Reseksi Transuretal Prostat (TURP). TURP adalah prosedur standar pembedahan pada pasien BPH dengan volume prostat 30-80 ml. Efek dari tindakan operasi ini adalah keluhan BAK kemerahan dan terjadi retensi urin yang sering terjadi karena adanya cloth yang menyumbat di saluran kemih. Tujuan studi kasus asuhan keperawatan ini adalah untuk membandingkan kefektifan manajemen elminasi urine pada pasien post operasi BPH di RSUD dr. Drajat Prawiranegara Serang. Pada pasien post operasi BPH kebanyakan mengeluh urine yang berwarna kemerahan, sehingga intervensi yang dilakukan adalah manajemen pola eliminasi, memonitoring intake dan output cairan dan edukasi minum yang cukup. Penelitian ini menggunakan studi kasus terhadap 2 pasien untuk membandingkan keefektifan tindakan yang akan dilakukan dan didapatkan hasil yang berbeda pada kedua pasien yaitu perbedaan lamanya waktu dilakukannya irigasi serta perbedaan antara intake dan output cairan dari kedua pasien.Kata kunci: Gangguan eliminasi, benigna prostat hiperplasia, manajemen eliminasi urinePENDAHULUANGangguan elminasi urine adalah keadaan dimana sesorang individu mengalami atau beresiko mengalami disfungsi eliminasi urine. Biasanya orang yang mengalami gangguan eliminasi urine akan dilakukan katerisasi yaitu tindakan memasukkan selang kateter ke dalam kansung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urine. (Nurfantri dkk, 2022)Gangguan eliminasi urine adalah disfungsi eliminasi urin (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,2017).Penyebab gangguan eliminasi urine yaitu penurunan kapasitas kandung kemih; iritasi kandung kemih; penurunan kemampuan kandung kemih; efek tindakan medis dan diagnosa (mis. Operasi ginjal; operasi saluran kemih; anestesi, dan obat-obatan); kelemahan otot pelvis; ketidakmampuan menagkses toilet; hambatan lingkungan; ketidakmampuan mengkonsumsi kebutuhan eliminasi; outlet kandung kemih tidak lengkap (mis. Anomali saluran kemih kongenital); dan imaturitas (pada anak < 3 tahun) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,2017).BPH kerap menyebabkan disfungsi pada saluran kemih