Rumput laut merupakan komoditas perikanan yang keberadaannya sangat melimpah dan salah satu sumberdaya alam hayati laut yang berpotensi untuk dikembangkan. Saat ini Indonesia hanya merupakan pengekspor rumput laut dalam bentuk bahan mentah, sekitar 75% rumput laut yang dihasilkan ekspor hanya dalam bentuk kering dan tanpa diolah lebih lanjut dan memiliki nilai jual yang rendah. Salah satu diversifikasi produk olahan rumput laut yang menarik konsumen yaitu nori. Nori merupakan makanan tradisional Jepang yang terbuat dari rumput laut alami yang ditambahkan bumbu didalamnya, nori digunakan sebagai hiasan dan penyedap berbagai macam masakan khas Jepang, lauk sewaktu makan nasi, nori berbentuk lembaran tipis yang dikonsumsi secara langsung setelah diolah, dikeringkan dan dipanggang. Adapun tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktik Akhir (KPA) ini adalah untuk melanjutkan penelitian yang telah dilakukan oleh Tina Fransiskha dkk (2020) dimana yang belum dilakukan adalah uji sensori, suhu dan waktu pengeringan yang optimal sehingga mengambil judul penelitian pengamatan terhadap uji sensori nori. Alur proses pembuatan nori rumput laut meliputi pencucian I, perendaman, pencucian II, pemasakan, pencetakan, pengeringan. Pada penilaian uji sensori dengan 30 panelis diperoleh hasil pada komposisi 97,5%:2,85% dengan nilai sensori kenampakan 7.50, tekstur 7.63, aroma 7.43, rasa 7.10 sedangkan komposisi 98%:2% memperoleh nilai sensori kenampakan 7.60, tekstur 7.20, aroma 7.37, rasa 7.03. Nilai mutu kimia komposisi 97,5%:2,85% memperoleh nilai kadar air 16.91%, protein 9.01%, serat kasar 32.35% dan komposisi 97,5%: 2,85% memperoleh kadar air 15.93%, kadar protein 11.28%, kadar serat kasar 29.66%. Nilai mutu mikrobiologi pada kompoisi 97,5%:2,85% adalah 63.000 koloni/gram dan komposisi 98%:2% adalah 34.000 koloni/gram.