Stephanus Tri Hartono
1. Fakultas Pascasarjana Universitas Indraprasta PGRI 2. SMKN 41 Jakarta Selatan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peranan Gedung Agung Sebagai Ibu Kota NKRI Pada Tahun 1946-1949 Stephanus Tri Hartono; Mamiek Suendarti; Taufik Taufik
Herodotus: Jurnal Pendidikan IPS Vol 6, No 2 (2023): Herodotus : Jurnal Pendidikan IPS
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/herodotus.v6i2.14523

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui Untuk mengetahui sejarah dibangunya Gedung Agung; Untuk mengetahui situasi kemanan kota Jakarta setelah proklamasi; Untuk mengetahui alasan Soekarno Yogyakarta sebagai Ibu Kota NKRI; Untuk mengetahui Bagaimana Peran Gedung Agung Yogyakarta sebagai ibu kota (Istana Negara) masa revolusi tahun 1946 sampai dengan tahun 1949; Untuk mengetahui proses kembalinya Ibu Kota NKRI ke Jakarta. Sejarah suatu Gedung atau bangunan sangat erat sekali dengan siapa penguni atau orang yang menempati bangunan itu, fungsi dari pada bangunan itu sangat berpengaruh terhadap sejarah daripada gedung tersebut. Sejarah suatu gedung tidak akan bermakna jika hanya berbicara mengenai kapan gedung itu dibuat, siapa pembuatnya, dan berapa biaya pembangunan gedung tersebut. Dengan demikian maka sejarah gedung tersebut akan mem bawa rentetan sejarah yang panjang. Bertolak dari pengertian ini penulisan Peran Gedung Agung Sebagai Ibu Kota NKRI pada tahun 1946-1949 (Tinjauan Historis)  hanya membatasi peranan Peran Gedung Agung dan serta tokoh-tokoh yang menghuni bangunan tersebut yang terjadi pada tahun 1946 sampai dengan tahun 1949 yang berkaitan erat dengan pemindahan ibu kota RI ke Yogyakarta Gedung Agung sebagai Istana Kepresidenan.