Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang penuh dengan kesempurnaan. Kesempurnaan manusia karena amanah yang diberikan oleh Allah yang menjadikan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Menjadi pemimpin ideal tentu manusia harus bertanggungjawab mengatur, mengolah, memelihara dan memakmurkan bumi. Di era sekarang banyak pemimpin yang menjadikan Islam sebagai aspek yang penting, akan tetapi sikap Islami belum Tampak dalam diri pemimpin. Al-Quran sendiri merupakan teks yang valid untuk mengetahui hakikat seorang pemimpin secara baik dan utuh, yang menuntun manusia untuk melakukan tugas dan tanggungjawab dalam kepemimpinan. Artikel ini menggunakan pendekatan library research (penelitian kepustakaan), serta penelitian ini menggunakan metode tafsir maudhu’i yaitu mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang satu dan membahas topik tertentu dengan menonjolkan tema atau topik pembahasan. Adapun rumusan masalah dalam artikel ini adalah bagaimana pemimpin ideal dalam Al Qur’an menurut M Quraish Shihab dan Hamka dan bagaimana letak persamaan dan perbedaan pemimpin ideal dalam Al Qur’an menurut M Quraish Shihab dan Hamka. Adapun hasil penelitian dalam artikel ini bahwasanya M Quraish Shihab dan Hamka telah menafsirkan tentang pemimpin ideal dalam Al-Qur’an yaitu ada beberapa konsep dan ciri khas yang harus dimiliki pemimpin yang ideal di antaranya, Pertama, orang yang berilmu. Kedua, orang yang selalu berjuang. Ketiga, orang yang selalu berkorban. Keempat, Seorang khalifah berpotensi bahkan secara aktual dapat menjauhkan hawa nafsu dalam melakukan kepemimpinan. Kelima, orang yang totalitas. Sedangkan perbedaannya tentang pengertian pemimpin ideal, menurut Quraish Shihab para pemimpin di bumi ini sebagai pengganti Allah dalam menegakkan kehendak-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Adapun menurut Hamka pemimpin ideal di artikan sebagai menggantikan Allah, dengan pemahaman bahwa sebagai pengganti Allah bukanlah berarti ia berkuasa pula sebagai Allah dan sama kedudukannya dengan Allah, bukan bermaksud demikian, melainkan manusia diangkat oleh Allah menjadi Khalifah-Nya dengan perintah-perintah tertentu.