Pengobatan kawio (bisul) adalah suatu pengobatan yang dilakukakan oleh masyarakat Muna Desa Kampani untuk mengobati penyakit berupa benjolan yang berwarna kemera-merahan yang berisi nanah disertai rasa nyeri yang menyebabkan badan serasa panas dan sakit pada bagian tubuh yeng terkena penyaikt kawio (bisul). Benjolan ini tumbuh pada bagian-bagian tertentu pada anggota tubuh manusia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan bentuk-bentuk pengobatan penyakit kawio Masyarakat Suku Muna Desa Kampani Kecamatan Wadaga, untuk mendeskripsikan Proses Pengobatan kawio (bisul) Masyarakat Suku Muna Desa Kampani Kecamatan Wadaga serta mendeskripsikan pola pewarisan tradisi pengobatan kawio (bisul) Masyarakat Muna Desa Kampani Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.Cara penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling. Metode yang dipakai dalam penelitian yaitu metode deskripsi dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitratif. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan tekni Proposive sampling. Data dianalisis dengan teknik sebagai berikut: pengumpulan data, reduksi data, klasifikasi data, display data serta mengambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawio (bisul) atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama furungkel adalah benjolan merah pada kulit yang berisi nanah dan terasa nyeri, dan salah satu penyakit yang sering dialami masyarakat Desa Kampani Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat; kawio (bisul) memiliki beberapa jenis dan bentuk yang berbeda-beda berdasarkan pengetahuan tradisional Masayarakat Muna Desa Kampani diantaranya, kawio biasa atau bisul biasa, pikitai, osorambata, okasosora dan kawisu. Bisul biasa biasa tumbuh disemua kulit, pikitai hanya tumbuh di ketiak dan tidak tumbuh disemua kulit, sama halnya dengan sorambata hanya tumbuh di selengkangan, okasosora tumbuh dalam telinga sedangkan kawisu hanya tumbuh pada setiap jari tangan dan jari kaki. Pola pewarisan pengobatan kawio (bisul) secara tradisional dapat diwariskan melalui berguru dengan orang pintar, melalui keluarga dan lingkungan.