This Author published in this journals
All Journal Syntax Idea
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prevalensi Anemia Pada Remaja Putri di Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang Tahun 2024 Arie Prasetyowati
Syntax Idea 3746-3752
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i8.4396

Abstract

Anemia didefinisikan sebagai kadar hemoglobin rendah di dalam darah. Remaja putri beresiko lebih besar untuk mengalami anemia karena mengalami siklus menstruasi dan perubahan hormon yang membutuhkan lebih banyak nutrisi untuk mendukung produksi sel darah merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi anemia pada remaja putri di Kecamatan Mungkid dan karakteristik yang mempengaruhinya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Penelitian ini dilakukan pada remaja putri kelas VII dan kelas X di SMP dan SMA se - Kecamatan Mungkid pada bulan Januari-Febuari 2024. Jumlah sampel sebanyak 794 responden, dengan teknik pengambilan sampel secara total sampling. Hasil penelitian menunjukan prevalensi anemia defisiensi besi sebesar 58,1%. Dengan rincian, anemia ringan sebesar 31%, anemia sedang 27% dan anemia berat 0.1%. berdasarkan hasil uji potong lintang didapatkan karakteristik usia dan pola menstruasi tidak memiliki hubungan dengan kejadian anemia dengan p value>0,05. Sedangkan karakteristik status gizi dan pengetahuan memiliki hubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri dengan p value< 0.05. Kesimpulan: prevalensi anemia pada remaja putri di kecamatan mungkid, Kabupaten Magelang tahun 2024 adalah sebesar 58,1%. Tidak terdapat hubungan antara karakteristik usia dan pola menstruasi, namun terdapat hubungan antara karakteritik status gizi dan pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Keterampilan Kader Posyandu dalam Pengukuran Antropometri Sebagai Upaya Deteksi Dini Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Arie Prasetyowati
Syntax Idea 3800-3808
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i9.4455

Abstract

Berdasarkan data pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM), angka stunting di wilayah kerja Puskesmas mungkid pada tahun 2023 sebesar 15,2%. Sedangkan berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia Tahun 2023, angka stunting di Kabupaten Magelang sebesar 28,2%. Salah satu factor yang mempengaruhi angka stunting adalah pengukuran antropometri yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan dan keterampilan kader posyandu di wilayah kerja puskesmas mungkid dalam melakukan pengukuran antropometri. Merupakan penelitian desktiptif yang dilaksanakan di posyandu wilayah kerja Puskesmas Mungkid, pada bulan Desember 2023. Populasi penelitian adalah seluruh kader posyandu berjumlah 743 orang, menggunakan perhitungan Slovin diperoleh besar subjek sebanyak 88 orang yang dipilih secara Non probability sampling. Karakteristik responden meliputi usia, pendidikan, lama menjadi kader dan pelatihan antropometri. Tingkat pengetahuan dinilai melalui kuisioner, dan keterampilan dinilai berdasarkan 7 indikator yaitu pengukuran berat badan, panjang badan, memasang microtoise, pengukuran tinggi badan, Lila, lingkar kepala dan pengisian buku KMS. Dari 88 subjek, diperoleh 45,5% responden berada pada rentang usia 41-50 tahun, 60,2% Pendidikan setingkat SMA, 45,5% lama menjadi kader pada rentang 1-5 tahun, dan 62,5% belum pernah mendapatkan pelatihan antropometri secara formal. Untuk tingkat pengetahuan yang bernilai baik 40,9% . Responden yang terampil dalam pengukuran berat badan 77,3%, memasang microtoise 90,9%, pengukuran tinggi badan 47.7%, pengukuran panjang badan 39,7%, lila dan lingkar kepala 38,6%, dan pengisian buku KMS 43,2%. Analisa chi square memiliki p value <0.05 yang berarti terdapat hubungan pelatihan antropometri kader terhadap kemampuan keterampilan pengukuran antropometri terutama dalam pengukuran Panjang badan dan tinggi badan sebagai acuan stunting. Gambaran kader yang belum mendapatkan pelatihan serta keterampilan dalam beberapa pengukuran antropometri cukup rendah. Diperlukan pelatihan dan pendampingan kader oleh tenaga puskesmas yang terlatih