Jamrud Zaman
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Problematika Sistem Presidential Threshold Ditinjau dari Maqāṣid al-Syarī’ah Jamrud Zaman; Kasuwi Saiban
BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam Vol 5 No 1 (2024): BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/bustanul.v5i1.1248

Abstract

The presidential threshold is a threshold requirement for a political party or a coalition of political parties supporting a presidential and vice-presidential candidate pair using the percentage of the DPR seat acquisition or the national valid vote acquisition in the DPR general election. The presence of this presidential threshold is a barrier to the right to equal opportunity in government. This research aims to evaluate the various rights that have been violated by the presidential threshold policy from the perspective of human rights and maqashid sharia as a new view of the efforts to reform a just law. This research includes normative research with statutory and legal policy approaches. The results and discussion of this research are that the general election law related to the presidential threshold has been tested by the Constitutional Court. However, the Court always rejects the application because it is of the opinion that the presidential threshold is an open authority of the legislator based on the delegation of Article 6A Paragraph (5) of the 1945 Constitution. The rejection resulted in disappointment for the Indonesian people because it was considered to limit the right to become a leader. In the perspective of Maqāṣid syarī'ah, the presidential threshold policy has also violated hifdzu 'aql. Therefore, in the future, fair legal reform efforts must be realized, namely by amending Article 6A Paragraph (2) related to presidential requirements to clearly regulate and close the loopholes of interpretation by the legislators and moral development of constitutional judges so that they really fight for the rights of citizens with a further view of the constitution.
Bimbingan Muallaf Karena Faktor Perkawinan Perspektif Maqāshid Syarī’ah: Studi Perbandingan Indonesia dan Malaysia Jamrud Zaman; Nasrullah Nasrullah; Aimi Diyana Husna
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 5 No 1 (2024): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/jaksya.v5i1.659

Abstract

Indonesia tergolong negara Islam yang kurang memperhatikan bimbingan muallaf karena perkawinan. Hal ini dikarenakan Indonesia belum mengatur secara jelas dalam regulasinya tentang mekanisme waktu, program, dan cara penyampaian bimbingan muallaf. Bimbingan muallaf ini merupakan kebutuhan dharūrriyyah karena tanpa adanya pembelajaran agama, maka dipastikan seseorang akan tersesat dan jauh dari Tuhannya. Tujuan perkawinan di Indonesia ialah untuk menciptakan keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Penelitian ini merupakan penelitian empiris dengan melakukan wawancara kepada pegawai Pertumbuhan Kebajikan Islam Malaysia (PERKIM) dan Ketua Kantor Urusan Agama Klojen, Kota Malang. Bimbingan muallaf di Indonesia dilakukan oleh Muallaf Center Indonesia (MCI) dan Kementerian Agama. Kegiatan muallaf di kedua lembaga tersebut sama-sama belum terstruktur dan terprogram dengan baik. Sedangkan bimbingan muallaf di Malaysia dilakukan oleh Pertumbuhan Kebajikan Islam Malaysia (PERKIM) yang sangat terstruktur, seperti adanya ketentuan batas minimal muallaf dalam bimbingan muallaf, adanya pendataan muallaf sehingga memudahkan dalam pencarian subjek bimbingan muallaf, dan adanya dakwah yang aktif dengan kunjungan rumah per rumah para muallaf sehingga mereka sangat antusias.