Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Pengembangan Ekowisata Mangrove Berbasis Modal Sosial di Desa Banyuurip, Kecamatan Ujung Pangkah, Gresik Sumaryam Sumaryam; Sri Oetami Madyowati; Didik Trisbiantoro; Suzana Sri Hartini; Shanty Ratna Damayanti; Andini Melan Sari; Ningtyas Dwiana Putri
Juvenil Vol 5, No 1: Februari (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i1.23515

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan membuat model pengembangan ekowisata mangrove berbasis pada modal sosial melalui unsur-unsurnya, yang berlokasi di Desa Banyuurip, Kecamatan Ujung Pangkah, Gresik dan dikenal dengan Banyuurip Mangrove Center (BMC), dimana ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dan tetap menjaga pelestarian lingkungan di daerah tersebut. Penelitian in menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan emik (emic view/persepsi informan) dan pendekatan etik (ethic view/interpretasi peneliti berdasarkan konsep/teori dan hasil-hasil kajian yang relevan. Pendekatan Emik mencoba menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat dengan sudut pandang masyarakat itu sendiri (pandangan orang dalam), sebaliknya, etik merupakan penggunaan sudut pandang orang luar yang berjarak untuk menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumen kemudian dianalisis dengan analisis model Milles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunujukan hubungan strategis antara modal sosial dan pengembangan eko-wisata mangrove, maka dengan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membangun eko-wisata adalah merupakan model pengembangan ekowisata mangrove. Kata kunci: modal sosial, partisipasi, eko-wisata mangrove, stakeholder, emic view ethic view, Analisis Miles HubermanABSTRACTThe research aims to create a mangrove ecotourism development model based on social capital through its elements, which is located in Banyuurip Village, Ujung Pangkah District, Gresik and is known as the Banyuurip Mangrove Center (BMC), where ecotourism is a form of tourist trip to natural areas carried out for the purpose of to improve the welfare of local communities and maintain environmental preservation in the area. Qualitative method with an emic approach (emic view/perception of informants) and an etic approach (ethic view/researcher's interpretation based on concepts/theories and relevant study results. The emic approach tries to explain a phenomenon in society from the perspective of society itself (people's views). in), on the other hand, ethics is the use of a distant outsider's point of view to explain a phenomenon in society. Data collected using observation, interviews and document study methods are then analyzed using the Milles and Huberman model analysis. Based on the strategic relationship between social capital and development Mangrove eco-tourism, increasing community participation to develop eco-tourism is a model for developing mangrove eco-tourism.Key words: social capital, participation, mangrove eco-tourism, stakeholders, emic view ethical view, Miles Huberman analysis
ANALISIS KELAYAKAN USAHA ABON IKAN LELE (Clarias gariepinus) PADA UMKM JAYA MANDIRI KAMPUNG SUKASIRNA KECAMATAN PURBARATU KABUPATEN TASIKMALAYA JAWA BARAT Ningtyas Dwiana Putri; Totok Hendarto; Angga Pratama Putra
Jurnal Media Informatika Vol. 6 No. 5 (2025): Edisi Sep - Oktober 2025
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jumin.v6i5.6871

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha abon ikan lele pada UMKM Jaya Mandiri di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Latar belakang penelitian didasarkan pada pesatnya perkembangan sektor kuliner di Indonesia serta besarnya potensi komoditas lele (Clarias gariepinus) yang produksinya mencapai ±1,14 juta ton pada tahun 2023. Melimpahnya pasokan membuka peluang hilirisasi melalui diversifikasi olahan, salah satunya abon lele. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan desain deskriptif analitik kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, serta telaah dokumen, dan dianalisis menggunakan perhitungan biaya total, penerimaan, keuntungan, Revenue Cost Ratio (R/C), dan Break Even Point (BEP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan abon ikan lele kemasan 100 gram mencapai Rp 7.700.000 per bulan dengan keuntungan Rp 4.876.774, sedangkan kemasan 50 gram memberikan penerimaan Rp 6.400.000 dengan keuntungan Rp 3.576.274. Perhitungan R/C ratio menghasilkan nilai 5,45 untuk kemasan 100 gram dan 4,53 untuk kemasan 50 gram. Kedua nilai R/C ratio lebih besar dari 1, yang berarti usaha abon ikan lele pada UMKM Jaya Mandiri layak dijalankan dan berpotensi memberikan keuntungan signifikan. Temuan ini mempertegas bahwa usaha pengolahan abon ikan lele tidak hanya mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekonomi lokal melalui kontribusinya terhadap pendapatan UMKM. Dengan demikian, penelitian ini memberikan rekomendasi bagi UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, serta mengoptimalkan kepatuhan terhadap standar mutu dan sertifikasi guna memperkuat daya saing di pasar.