Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IMPLEMENTASI METODE COMPOSITE PERFORMANCE INDEX (CPI) DALAM PENENTUAN CALON PENERIMA BANTUAN PANGAN NON TUNAI (BPNT) (STUDI KASUS: KELURAHAN TAMBELAN SAMPIT) Azzahra, Syarifah Fatimah; Bahri, Syamsul; Ristian, Uray
Coding: Jurnal Komputer dan Aplikasi Vol 11, No 1 (2023): Edisi April 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/coding.v11i1.57847

Abstract

Bantuan sosial pangan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia disebut juga sebagai Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada setiap bulan dengan mekanisme perbankan. Untuk mendapatkan BPNT, masyarakat diusulkan oleh ketua RT setempat kepada Kelurahan dengan cara mengisi kuesioner sehingga menjadi calon peserta KPM yang dikelola oleh Dinas Sosial di Kota Pontianak. Guna membantu Kelurahan dalam proses seleksi kelayakan penerima BPNT, diperlukan adanya sistem yang dapat mempermudah dan mempercepat proses penentuan rekomendasi calon penerima bantuan di Kelurahan Tambelan Sampit, Kota Pontianak. Sistem penentuan calon penerima BPNT dapat diselesaikan menggunakan salah satu metode dengan sistem Multiple Criteria Decision Making (MCDM) yang dapat menyelesaikan masalah dengan kriteria yang banyak dan tidak seragam, salah satunya metode Composite Performance Index (CPI). Metode CPI ialah metode yang dapat diaplikasikan dalam penentuan peringkat dari banyak alternatif berdasarkan beberapa kriteria yang tidak seragam dan akan dibedakan menjadi dua jenis kriteria yaitu kriteria tren positif dan negatif. Penentuan peringkat menggunakan metode CPI dilakukan dengan mengurutkan nilai tertinggi hingga nilai terendah, dengan nilai tertinggi sebagai alternatif terbaik. Hasil akhir dari penelitian juga akan dipengaruhi oleh kriteria, tren dan bobot. Hasil penelitian ini merupakan sistem pendukung keputusan dalam penentuan calon penerima BPNT dengan mengimplementasikan metode CPI yang dibangun berbasis website guna mendukung proses seleksi yang lebih efektif dan efisien. Berdasarkan 30 data calon penerima BPNT dan 14 kriteria yang digunakan didapat rekomendasi penentuan calon penerima BPNT dengan ranking pertama A26 dengan nilai indeks alternatif 8400.
IMPLEMENTASI HUKUM KERJA SAMA ANTARA INDONESIA DAN MALAYSIA DALAM MENANGGULANGI DRUGS TRAFFICKING DI WILAYAH PERBATASAN DARAT INDONESIA-MALAYSIA DI KALIMANTAN BARAT NIM. A1011191093, SYARIFAH FATIMAH AZZAHRA
Jurnal Fatwa Hukum Vol. 8 No. 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Wilayah perbatasan darat Indonesia - Malaysia di Kalimantan Barat merupakan area rawan penyelundupan narkoba akibat kondisi geografis yang kompleks dan tingginya aktivitas lintas batas. Maraknya drugs trafficking di kawasan ini telah menjadi ancaman serius bagi keamanan dan kesehatan masyarakat kedua negara. Oleh karena itu, kerja sama bilateral antara Indonesia dan Malaysia menjadi sangat penting. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam mengatasi permasalahan ini, sehingga kolaborasi dalam bentuk pertukaran informasi, patroli bersama, dan peningkatan kapasitas aparat penegak hukum sangat diperlukan. Selain itu, kerja sama ini juga dapat mencakup upaya pencegahan, rehabilitasi pengguna narkoba, dan edukasi masyarakat tentang bahaya narkoba. Metode penelitian yang digunakan adalah normatif-preskriptif dengan pendekatan kualitatif, data yang dikumpulkan diperoleh dengan teknik wawancara, bahan pustaka, konvensi internasional, dokumen hukum, serta laporan instansi terkait. Penulis mewawancarai beberapa narasumber yaitu, ibu AKBP Sri Sulasmini, S.H., M.H. Kepala Bagian Bin Ops Ditnarkoba POLDA Kalimantan Barat, bapak AKBP Jajang S.Kom Kasubdit 2 Ditresnarkoba POLDA Kalimantan Barat, bapak AIPDA Ryan Herman penyidik di BNNP Kalimantan Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi hukum kerja sama Indonesia - Malaysia dalam menanggulangi peredaran narkotika di wilayah perbatasan darat Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat mencakup pertukaran intelijen, rapat tahunan, dan patroli perbatasan. Kendala utama meliputi luasnya wilayah perbatasan darat, sistem yang belum sepenuhnya berjalan, ketersediaan infrastruktur, keterbatasan sumber daya, dan modus perdagangan yang kompleks. Meski berhasil menangkap pelaku dan menyita narkotika, efektivitas kerja sama masih perlu ditingkatkan melalui harmonisasi kebijakan dan pemanfaatan teknologi. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya harmonisasi kebijakan, peningkatan kerja sama lintas instansi, dan optimalisasi teknologi untuk memperkuat penanggulangan drugs trafficking. Rekomendasi yang disarankan antara lain pembentukan sistem database terintegrasi, pelatihan khusus bagi aparat, serta pemanfaatan teknologi modern seperti drone untuk memperluas cakupan pengawasan tanpa terbatas oleh kendala luasnya wilayah perbatasan darat Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Barat. Kata Kunci: Kerja sama bilateral, drugs trafficking, perbatasan Indonesia-Malaysia, penegakan hukum. "ƒ ABSTRACT The Indonesia-Malaysia land border area in West Kalimantan is prone to drugs trafficking due to its complex geography and high level of cross-border activity. The prevalence of drug trafficking in this region poses a serious threat to the security and health of both countries. Therefore, bilateral cooperation between Indonesia and Malaysia is very important. Both countries share the same interests in addressing this issue, so collaboration in the form of information exchange, joint patrols, and capacity building for law enforcement agencies is essential. Additionally, this cooperation can also include prevention efforts, rehabilitation of drug users, and public education about the dangers of drugs. The research method used is normative-prescriptive with a qualitative approach, and the data collected was obtained through interviews, literature, legal documents, international convention, and reports from relevant agencies. The author interviewed several sources, namely Mrs. AKBP Sri Sulasmini, S.H., M.H., Head of Operational Development at the West Kalimantan Regional Police Narcotics Directorate; Mr. AKBP Jajang S.Kom, Deputy Director 2 of the West Kalimantan Regional Police Narcotics Directorate; and Mr. AIPDA Ryan Herman, an investigator at the West Kalimantan National Narcotics Agency. The research findings indicate that the implementation of Indonesia-Malaysia cooperation in combating drug trafficking in the land border area of West Kalimantan includes intelligence sharing, annual meetings, and border patrols. The main obstacles include the vastness of the land border, a system that is not yet fully operational, the availability of infrastructure, limited resources, and complex trafficking methods. Although successful in apprehending perpetrators and seizing narcotics, the effectiveness of cooperation still needs to be improved through policy harmonization and the utilization of technology. The conclusion of this study emphasizes the importance of policy harmonization, enhanced inter-agency cooperation, and the optimization of technology to strengthen efforts to combat drug trafficking. Recommended measures include the establishment of an integrated database system, specialized training for law enforcement personnel, and the use of modern technology such as drones to expand surveillance coverage without being constrained by the vastness of the land border area between Indonesia and Malaysia in West Kalimantan. Keywords: Bilateral cooperation, drugs trafficking, Indonesia-Malaysia border, law enforcement.
Identification and Analysis of Potential Breast Anticancer Agents in Pogostemon Cablin through Network Pharmacology Syarifah Fathimah Azzahra; Essy Harnelly; Muhammad Subianto; Wisnu Ananta Kusuma; Widya Sari
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No SpecialIssue (2024): Science Education, Ecotourism, Health Science
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10iSpecialIssue.7049

Abstract

Breast cancer is one of the highest known causes of death in Indonesia, especially for women. Pogostemon cablin Benth is one of the Aceh's endemic herbal plants that has been studied to have potential such as anti-inflammatory, antiproliferative, antioxidant, antimicrobial, and proapoptotic. Network pharmacology approach was conducted to explore and analyze the potential of P. cablin as an anti-breast cancer. P. cablin plant compounds were obtained from GCMS and breast cancer genes data were obtained from OMIM, GeneCard, and DisGeNet databases. Target proteins and pathways involved were identified using STRING-DB and Metascape. Network analysis was performed using Cytoscape. A total of 65 plant compounds with 554 target proteins and 1854 disease genes were obtained. Based on the results of combining protein targets using Venn diagrams, 138 overlapping proteins between drug compounds and breast cancer disease targets were identified. Based on KEGG and GO analysis, P. cablin is known to have potential in breast cancer treatment/therapeutic mechanisms. Based on the "compound-protein target-pathway" multi-target mechanism, pogostol; 1H-Cycloprop[e]azulen-7-ol, decahydro-1,1,7-trimethyl-4-methylene-, [1ar-(1aα,4aα,7β,7aβ,7bα)]-; 3-Hexen-1-ol, 2,5-dimethyl-, acetate, (Z)-, 5β,7βH,10α-Eudesm-11-en-1α-ol; Acetic acid, 3-hydroxy-6-isopropenyl-4,8a-dimethyl 1,2,3,5,6,7,8,8a-octahydronaphthalen-2-yl ester; and Humulenol-II interacts with proteins that play a significant role in breast cancer, which are MAPK1, EGFR, TNF, AKT1, and JAK2. Hence, it can be concluded that P. cablin has good potential to be a source of therapeutic treatment against breast cancer. However, it needs to be tested clinically to further determine the effects of this P. cablin compound.