Abstract. Natural medicine preparations in Indonesia play an important role in people's lifestyles, the saga leaf plant (Abrus precatorius L) is reused as a natural medicine. Saga leaves themselves have antibacterial activity because they contain compounds such as alkaloids, flavonoids and saponins. The use of saga leaves in society is considered less effective and does not correspond to the dose that can be accepted by the body, so it is being developed in pharmaceutical dosage forms such as gel, hydrogel patch and toothpaste. A 1% concentration in the gel preparation has an inhibitory power of 26.00 mm on S.aureus bacteria, a 0.4% hydrogel patch concentration has an inhibitory power of 2.98 mm on S.aureus bacteria, and a 10% concentration in the toothpaste preparation has an inhibitory power of 7.08 mm in S.mutans bacteria. Meanwhile, the ethanol extract of saga leaves with a concentration of 0.25% has an inhibitory power of 9 mm on S.aureus bacteria, a concentration of 0.5% saga leaf ethanol extract has an inhibitory power of 11 mm on E.coli bacteria, a concentration of 0.625% ethanol extract on S.pneumonia bacteria. has a resistance of 1.7mm. The results show that saga leaf extract in pharmaceutical dosage form and in extract form has antibacterial activity. Abstrak. Sediaan obat bahan alam di Indonesia berperan penting dalam pola kehidupan masyarakat, tanaman daun saga (Abrus precatorius L) dimanfaatkan kembali sebagai obat bahan alam. Daun saga sendiri mempunyai aktivitas sebagai antibakteri karena mengandung senyawa seperti alkaloid, flavonoid, dan saponin. Pemanfaatan daun saga dalam masyarakat dinilai kurang efektif dan tidak sesuai dosis yang dapat diterima oleh tubuh sehingga dilakukan pengembangan dalam bentuk sediaan farmasi seperti gel, patch hidrogel dan pasta gigi. Konsentrasi 1% pada sediaan gel memiliki daya hambat 26.00 mm pada bakteri S.aureus, konsentrasi patch hidrogel 0,4% memiliki daya hambat 2.98 mm pada bakteri S.aureus, dan konsentrasi 10% pada sediaan pasta gigi memiliki daya hambat 7,08 mm pada bakteri S.mutans. Sedangkan ekstrak etanol daun saga dengan konsentrasi 0.25% memiliki daya hambat 9 mm pada bakteri S.aureus, konsentrasi ekstrak etanol daun saga 0,5% memiliki daya hambat 11 mm pada bakteri e.coli, konsentrasi ekstrak etanol 0,625% pada bakteri S.pneumonia memiliki daya hambat 1,7mm. Hasil menunjukan bahwa ekstrak daun saga dalam bentuk sediaan faramasi dan dalam bentuk ekstrak memiliki aktivitas antibakteri.