Pengabdian ini berdasarkan pada kasus kekerasan di pondok pesantren. Kekerasan memiliki pengaruh misalnya kecenderungan melahirkan pribadi santri sebagai pemberontak, pemarah, trauma, dan masalah kesehatan mental lainnya. Sehubungan dari output pesantren yaitu menjadi pribadi yang cerdas secara emosional selain religious dan terampil dalam mengola masalah kehidupan. Pengabdian ini berfokus pada usaha pendidik membentuk kecerdasan emosional santri melalui disiplin positif dan karakter kecerdasan emosional santri menggunakan pendekatan disiplin positif. Pengabdian ini dilakukan di pondok pesantren dengan peserta pengelola pondok pesantren, guru, dan pengasuh asrama. Hasil sosialisasi ini menggambarkan bahwa Pendekatan disiplin positif ini mendukung program pesantren ramah santri. Pendekatan disiplin positif bukan tidak membenarkan hukuman sama sekali, namun hukuman bukan cara yang terbaik dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi santri dan efektif untuk jangka panjang. Pendekatan disiplin berorientasi untuk menumbuhkan keyakinan santri. Pendidik pesantren dapat membentuk kecerdasan emosional dengan pendekatan disiplin positif, diantaranya memberikan kesempatan kepada santri sehingga santri tidak kehilangan rasa kontribusi, rasa dihargai, dan rasa perduli. Memberikan validasi perasaan atau memahami perasaan santri. Strateginya dapat dilakukan seperti pertemuan kelas, melibatkan santri dalam pemecahan masalah, dan membangun rasa memiliki (dihargai).