Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kajian dakwah kultural yang secara khusus menelaah Tradisi Sekura sebagai proses komunikasi nilai Islam berbasis simbol, praktik sosial, dan pemaknaan generasi muda. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana dakwah kultural berlangsung dalam Tradisi Sekura di Pekon Gunung Sugih, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan jenis penelitian lapangan. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap remaja peserta tradisi, tokoh adat, dan tokoh agama, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, interpretasi tematik, dan triangulasi sumber serta teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Sekura berfungsi sebagai media dakwah kultural melalui topeng, kostum, arak-arakan, silaturahmi, gotong royong, rasa syukur, dan kebersamaan. Namun, internalisasi nilai belum sepenuhnya merata karena sebagian generasi muda masih memaknai Sekura sebagai hiburan atau ruang sosial, bukan sebagai ruang pembelajaran nilai. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Sekura memiliki potensi dakwah yang kuat, tetapi membutuhkan penguatan makna simbol, pembinaan generasi muda, dan dialog antaraktor. Implikasinya, pelestarian Sekura perlu diarahkan tidak hanya pada keberlanjutan budaya, tetapi juga pada pendidikan nilai Islam yang reflektif, kontekstual, dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal.