Muhamad Rizky Syawaludin Sobari
Universitas Padjadjaran

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesejahteraan Perempuan Pekerja Rumah Tangga sebagai Tenaga Kerja Informal dalam Kerangka Perlindungan Sosial Kelompok Rentan Nazwa Revina; Dian Salma Wahida; Muhamad Rizky Syawaludin Sobari
Salus Cultura: Jurnal Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55480/saluscultura.v4i1.205

Abstract

Perlindungan terhadap Perempuan Pekerja Rumah Tangga (PRT) menjadi isu yang tidak kunjung selesai sejak tahun 2004. Minimnya perlindungan sosial, ketenagakerjaan, dan kepastian hukum membuat isu Perempuan PRT menjadi semakin kompleks setiap tahunnya. Jumlah kasus kekerasan fisik, psikis, dan ekonomi terhadap Perempuan PRT yang mengalami peningkatan setiap tahunnya mendorong penguatan kebijakan dan regulasi terkait perlindungan PRT untuk menciptakan sistem yang mendukung pengakuan PRT secara hukum dan sosial. Melalui tinjauan teori dan perspektif kesejahteraan sosial, tulisan ini bertujuan untuk memahami hambatan dan peluang yang memengaruhi kesejahteraan dan akses perempuan PRT terhadap perlindungan sosial. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis studi literatur yang relevan. Temuan pada tulisan ini menunjukkan bahwa perempuan PRT seringkali mengalami ketidakadilan, ketidaksetaraan, dan diskriminasi dalam lingkungan sosial dan pekerjaan yang diperburuk oleh status PRT sebagai tenaga kerja informal. Tulisan ini mengusulkan berbagai strategi yang berorientasi pada kebijakan untuk mengintegrasikan perempuan PRT ke dalam sistem perlindungan, dengan menyoroti perlunya keterlibatan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah sebagai pembuat kebijakan, masyarakat sebagai kontrol sosial dalam mengawal kebijakan, badan atau organisasi yang berorientasi pada upaya perlindungan PRT, dan pekerja sosial sebagai pihak yang memiliki keahlian dalam menangani isu-isu sosial. Tulisan ini memberikan wawasan baru mengenai tantangan dalam mewujudkan kesejahteraan Perempuan PRT sebagai tenaga kerja informal yang termasuk ke dalam kelompok rentan dan menawarkan rekomendasi konkret untuk mendorong penjaminan atas perlindungan perempuan PRT.
An Andragogy-Based Non-Formal Education Model for Former Migrant Workers: A Study of the Desbumi Program in Juntinyuat, Indramayu Muhamad Rizky Syawaludin Sobari; Maulana Irfan; Risna Resnawaty
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 10 No 3 (2026): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Juli)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/ww9qxx53

Abstract

Returning Indonesian migrant workers often face difficulties in socio-economic reintegration after returning to their home regions, characterized by low public participation, limited entrepreneurial skills, and dependence on unsustainable remittances. This study aims to analyze the application of andragogy principles in the Desa Peduli Buruh Migran Program by Migrant CARE within the Gema Karya Migran Group in Juntinyuat, Indramayu, as well as its contribution to the socio-economic reintegration of former migrant workers. The research method is descriptive qualitative, with data collection through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis involving program facilitators, group members, families of migrant workers, government, and the migrant worker protection service center. The research results indicate that the program has implemented Knowles’ six principles of andragogy, namely the need to know, self-concept, role of experience, readiness to learn, orientation to learning, and motivation. This implementation has successfully restored the social functioning of group members through increased participation in village deliberations, the development of self-confidence, and the ability to independently handle licensing procedures. However, the contribution to economic reintegration remains limited because income from micro, small, and medium-sized enterprises is sporadic and dependent on orders from corporate partners. In conclusion, the Desbumi Program is effective as a social reintegration strategy, while economic reintegration requires ongoing support, particularly in the areas of market access and digital marketing.