BRICS mewakili kekuatan global alternatif yang menantang dominasi Negara Barat dengan menekankan multipolaritas, yaitu kerja sama antar negara-negara besar untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih seimbang dan tidak hanya dikendalikan oleh kekuatan Barat. Studi ini menganalisis partisipasi Presiden Prabowo Subianto dalam Pertemuan Virtual Pemimpin BRICS pada 8 September 2025, dengan fokus pada bagaimana identitas diplomatik Indonesia dibangun melalui pidato kenegaraan resmi. Menggunakan Analisis Wacana Kritis (CDA) Fairclough dan perspektif konstruktivis dalam Hubungan Internasional (Wendt, 1992), penelitian ini mengkaji dimensi tekstual, diskursif, dan sosial dari pidato tersebut. Pada tingkat tekstual, temuan menyoroti citra Indonesia sebagai mitra kerja sama sekaligus menyuarakan kritik implisit terhadap hegemoni global. Pada tingkat diskursif, pidato tersebut diproduksi oleh Sekretariat Presiden dan disebarluaskan melalui media nasional dan internasional, sehingga memperkuat citra diplomatik Indonesia di hadapan khalayak global dan domestik. Pada tingkat praktik sosial, wacana tersebut mencerminkan dukungan terhadap multipolaritas, penolakan terhadap standar ganda, dan solidaritas internasional. Studi ini menunjukkan bahwa bahkan pernyataan multilateral singkat oleh Presiden Prabowo Subianto dapat berfungsi sebagai instrumen penting untuk pembangunan identitas dan kekuatan lunak Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan memperluas penerapan CDA ke ranah diplomasi internasional.