p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JURNAL BIOMEDIK
Christopher Lampah
Kelompok Staf Medis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penggunaan Transcranial Magnetic Stimulation pada Fungsi Motorik Pascastroke Christopher Lampah; Devan Perwira; Lidwina Sengkey
Jurnal Biomedik:JBM Vol. 14 No. 2 (2022): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.v14i2.44610

Abstract

ABSTRACT:  Stroke is an acute neurovascular disorder that causes long-term limitations to activities of daily living and death worldwide, affecting nearly 800,000 people each year in the US, leaving sufferers with motor and cognitive impairment. Until now, scientists have only been able to understand which areas of the brain play specific roles by studying patients suffering from brain injuries. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) is a non-invasive, painless method for modulating cortical excitability. rTMS and exercise can be used to alter brain tissue and reorganize functional connections between brain regions, further promoting the recovery of motor function in stroke patients. The combination of these two therapies shows benefits in regulating cortical excitability and improving motor performance in stroke patients. Keywords: stroke; rTMS; neuroplasticity; activity daily living   ABSTRAK: Stroke adalah gangguan neurovaskular akut yang menyebabkan keterbatasan jangka panjang terhadap aktivitas hidup sehari-hari dan kematian di seluruh dunia, mengenai hampir 800.000 orang setiap tahun di AS, menyebabkan penderita mengalami gangguan motorik dan kognitif. Hingga saat ini, para ilmuwan hanya dapat memahami area otak mana yang memainkan peran spesifik dengan mempelajari pasien yang menderita cedera otak. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) adalah metode non-invasif, tanpa rasa sakit untuk memodulasi rangsangan kortikal. rTMS dan latihan fisik dapat digunakan untuk mengubah jaringan otak dan mengatur kembali koneksi fungsional antara daerah otak, selanjutnya mempromosikan pemulihan fungsi motorik pada pasien stroke. Kombinasi dari kedua terapi ini menunjukkan keuntungan dalam mengatur rangsangan kortikal dan meningkatkan kinerja motorik pasien stroke. Kata Kunci: stroke; rTMS; neuroplastisitas; aktivitas kehidupan sehari-hari
Gangguan Kognitif Pasca Cedera Otak Traumatik Janet Loprang; Christopher Lampah; Lidwina Sengkey
Jurnal Biomedik:JBM Vol. 14 No. 2 (2022): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Traumatic brain injury is an increasing public health problem and is a significant cause of morbidity and mortality worldwide. Every year around 10 million people experience traumatic brain injuries worldwide. According to Riskesdas 2018, the prevalence of traumatic brain injury in Indonesia is 11.9%. A global report on driving safety by the World Health Organization in 2013 demonstrated the magnitude of this problem now and in the future throughout the world, and the need for well-developed and evaluated programs for prevention, management and rehabilitation. Of the 2 million people experiencing traumatic brain injury, around 1 million require rehabilitation services at the national level. People with traumatic brain injuries can experience chronic disabilities that impact a person's life in terms of cognitive, behavioral, psychosocial, physical, and vocational issues. Cognitive impairment is the most disruptive disorder for people with traumatic brain injury, family members, and the community. Cognitive deficits can significantly affect activities of daily living (ADL), work, social relationships, recreation, and active participation in the community. Traumatic brain injuries are classified as mild, moderate, and severe based on the level of consciousness, especially the duration of post-traumatic coma and amnesia Keywords: Traumatic; Brain; Injury; Cognitive Abstrak: Cedera otak traumatik adalah masalah kesehatan publik yang semakin meningkat dan merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan di dunia. Setiap tahunnya sekitar 10 juta orang mengalami cedera otak traumatik di seluruh dunia. Menurut Riskesdas 2018, prevalensi kejadian cedera otak traumatik di Indonesia berada pada angka 11,9%. Sebuah laporan global mengenai keselamatan berkendara oleh World Health Organization tahun 2013 menunjukkan besarnya masalah ini sekarang dan pada masa yang akan datang di seluruh dunia, dan dibutuhkannya program yang dibuat dan dievaluasi secara baik untuk pencegahan, tatalaksana, dan rehabilitasi. Dari 2 juta orang mengalami cedera otak traumatik, sekitar 1 juta membutuhkan pelayanan rehabilitasi pada tingkat nasional. Orang-orang dengan cedera otak traumatik dapat mengalami disabilitas kronis yang berdampak pada kehidupan seseorang dalam hal kognitif, perilaku, psikososial, fisik, dan masalah vokasional. Gangguan kognitif adalah gangguan yang paling mengganggu bagi orang yang mengalami cedera otak traumatik, anggota keluarga, dan bagi komunitas. Defisit kognitif dapat memengaruhi activities of daily living (ADL), pekerjaan, hubungan sosial, rekreasi, dan partisipasi aktif dalam komunitas secara signifikan. Cedera otak traumatik diklasifikasikan sebagai ringan, sedang, dan berat berdasarkan tingkat kesadaran, terutama durasi koma dan amnesia pasca trauma Kata Kunci: Traumatik; Otak; Cedera; Kognitif