Magdalena Pura Adiputra Artarini
Universitas Kristen Duta Wacana

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Menilik Kriteria “liyan”: Mewujudkan Kerukunan Umat Beragama di Yogyakarta Magdalena Pura Adiputra Artarini
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 7, No 1 (2024): Kharismata: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.251

Abstract

This paper discusses the importance of religious harmony in Yogyakarta, a city with a significant number of newcomers, making it rich in diversity, one of which is religion. This diversity makes Yogyakarta also vulnerable to conflict. Through qualitative research methods with a literature study approach, the author looks at and explores the factors that influence the occurrence of intolerance. It was found that intolerance in Yogyakarta was strongly influenced by factors such as narrow-minded religious thinking, religious fanaticism, and exclusive interpretations of the concept of "the Other.” Therefore, a more inclusive introduction to the concept of “the Other” can help people appreciate religious differences, diversity in Yogyakarta and achieve religious harmony. This can be achieved through recognition of differences, interfaith dialogue, and an ethic of hospitality. It is hoped that the people of Yogyakarta will not only be able to overcome religious conflict, but also strengthen religious harmony and build sustainable communication among different religious communities.  Makalah ini membahas pentingnya kerukunan umat beragama di Yogyakarta, sebagai kota dengan jumlah pendatang yang cukup banyak, menjadikan kota Yogyakarta kaya akan keragaman salah satunya agama. Tentunya keberagaman ini menjadikan Yogyakarta juga rentan terjadi konflik. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur, penulis melihat dan menggali faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya intoleransi. Ditemukan bahwa intoleransi di Yogyakarta kuat dipengaruhi oleh faktor seperti pemikiran sempit mengenai keagamaan, fanatisme beragama, dan interpretasi eksklusif tentang "liyan." Maka pengenalan secara lebih inklusif pada konsep "liyan" dapat membantu masyarakat menghargai perbedaan dan keberagaman umat beragama di Yogyakarta serta mencapai harmoni agama. Hal ini dapat dilakukan melalui pengakuan pada perbedaan, dialog lintas iman, dan etika keramahan. Diharapkan masyarakat Yogyakarta tidak hanya dapat mengatasi konflik keagamaan, namun juga memperkuat harmoni agama, dan membangun komunikasi yang berkelanjutan di antara komunitas agama yang berbeda.
Menilik Kriteria “liyan”: Mewujudkan Kerukunan Umat Beragama di Yogyakarta Magdalena Pura Adiputra Artarini
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.251

Abstract

This paper discusses the importance of religious harmony in Yogyakarta, a city with a significant number of newcomers, making it rich in diversity, one of which is religion. This diversity makes Yogyakarta also vulnerable to conflict. Through qualitative research methods with a literature study approach, the author looks at and explores the factors that influence the occurrence of intolerance. It was found that intolerance in Yogyakarta was strongly influenced by factors such as narrow-minded religious thinking, religious fanaticism, and exclusive interpretations of the concept of "the Other.” Therefore, a more inclusive introduction to the concept of “the Other” can help people appreciate religious differences, diversity in Yogyakarta and achieve religious harmony. This can be achieved through recognition of differences, interfaith dialogue, and an ethic of hospitality. It is hoped that the people of Yogyakarta will not only be able to overcome religious conflict, but also strengthen religious harmony and build sustainable communication among different religious communities.  Makalah ini membahas pentingnya kerukunan umat beragama di Yogyakarta, sebagai kota dengan jumlah pendatang yang cukup banyak, menjadikan kota Yogyakarta kaya akan keragaman salah satunya agama. Tentunya keberagaman ini menjadikan Yogyakarta juga rentan terjadi konflik. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur, penulis melihat dan menggali faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya intoleransi. Ditemukan bahwa intoleransi di Yogyakarta kuat dipengaruhi oleh faktor seperti pemikiran sempit mengenai keagamaan, fanatisme beragama, dan interpretasi eksklusif tentang "liyan." Maka pengenalan secara lebih inklusif pada konsep "liyan" dapat membantu masyarakat menghargai perbedaan dan keberagaman umat beragama di Yogyakarta serta mencapai harmoni agama. Hal ini dapat dilakukan melalui pengakuan pada perbedaan, dialog lintas iman, dan etika keramahan. Diharapkan masyarakat Yogyakarta tidak hanya dapat mengatasi konflik keagamaan, namun juga memperkuat harmoni agama, dan membangun komunikasi yang berkelanjutan di antara komunitas agama yang berbeda.
Bedah Kosmetik: Modifikasi Tubuh atau Modifikasi Kehidupan? Magdalena Pura Adiputra Artarini
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1215

Abstract

AbstractNowadays, cosmetic surgery has become a trend that absorbs a lot of public attention and still hot to discuss. These phenomenon leads to fundamental questions about the motivation behind someone undergoing cosmetic surgery and how individuals perceive their bodies. By gathering secondary data from various literature related to cosmetic surgery, it was found that the phenomenon is strongly influenced by several factors such as socio-cultural, psychological and economic aspect. These factors explain how individuals internalize widespread beauty norms, seeing cosmetic surgery as a goal to improve the quality of life, until the body is seen asa commodity that can be traded. This of course, affect how they view their bodies. However, cosmetic surgery also faces issues related to health risks, body image, life satisfaction, ethical dilemmas and moral issues. Therefore, theology needs to be present to provide consideration for those interested in or planning to undergo cosmetic surgery, by discussing the uniqueness of creation in the likeness and image of God, the body as the abode of the Spirit and the moral responsibility of the body. While there’s no definitive answer as to whether cosmetic surgery is permissible or not, theology serves as a means to reassess the motivations, impacts for those considering cosmetic surgery and to offer thoughtful considerations on the matter. AbstrakHingga kini trend bedah kosmetik banyak menyerap atensi publik dan hangat diperbincangkan. Membawa pada pertanyaan mengenai apa motivasi dibalik seseorang melakukan bedah kosmetik dan bagaimana ia memandang tubuhnya. Dengan mengumpulkan data-data sekunder melalui berbagai literatur terkait topik bedah kosmetik didapatkan temuan bahwa fenomena bedah kosmetik kuat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sosial-budaya, psikologi dan ekonomi. Faktor-faktor tersebut menjelaskan mulai dari bagaimana seseorang menginternalisasi norma kecantikan yang beredar secara masif, melihat bedah kosmetik sebagai tujuan meningkatkan kualitas hidup, hingga tubuh dilihat sebagai komoditas yang dapat diperjual-belikan; tentu ini berpengaruh pada bagaimana mereka memandang tubuhnya. Resikonya bedah kosmetik menghadapi persoalan di publik terkait dengan resiko kesehatan, citra tubuh, kepuasan hidup, permasalah etis serta moral. Oleh sebab itu teologi perlu hadir untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan bagi mereka yang tertarik atau ingin melakukan beda kosmetik melalui pembicaraan tentang keunikan ciptaan terkait gambar-rupa Allah, tubuh sebagai kediaman Roh dan tanggung jawab moral pada Tubuh. Meski tidak ada jawaban yang tegas akan boleh atau tidaknya bedah kosmetik dilakukan, namun teologi hadir sebagai sarana menilik kembali motivasi, dampak, dari seseorang yang ingin melakukan bedah kosmetik dan memberikan pertimbangan terhadapnya.