Henry Andreas Brya
Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Indonesia Timur di Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

RELEVANSI HOSPITALITAS GEREJA TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN KASUS BUNUH DIRI Mariana Mariana; Henry Andreas Brya
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v4i1.127

Abstract

This paper addresses the ongoing dilemma of suicide, which remains a significant issue not only in Indonesia but also globally. Various factors contribute to the occurrence of suicide cases, including social-economic instability, poverty, unemployment, and the conflicting orientations of individualism and collectivism, which can lead individuals to take their own lives. Alarmingly, even churches, which are meant to teach love and compassion to their congregations, sometimes inadvertently foster environments that drive people toward suicide. In response to this reality, the paper employs a descriptive qualitative method to explore the relevance of church hospitality in suicide prevention efforts. The analysis yields three key points: first, love is the fundamental basis of hospitality, as sympathy is essential for fostering care and concern for others. Second, hospitality can serve as a form of social control within the church, where each individual can act as a social regulator in their community. Third, every individual in the church should view others as brothers and sisters, necessitating fair treatment for all. Tulisan ini membahas fenomena kasus bunuh diri yang masih menjadi dilema, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kasus ini, seperti ketidakstabilan kondisi sosial-ekonomi, kemiskinan, pengangguran, serta orientasi individualisme dan kolektivisme, yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri. Bahkan, gereja, yang seharusnya mengajarkan kasih kepada jemaatnya, sering kali justru menjadi komunitas yang secara tidak langsung mendorong individu untuk melakukan bunuh diri. Melihat realitas tersebut, tulisan ini, melalui metode kualitatif deskriptif, menawarkan relevansi sikap hospitalitas gereja dalam upaya pencegahan kasus bunuh diri. Ada tiga poin utama yang menjadi hasil analisis dalam tulisan ini. Pertama, cinta kasih adalah landasan utama dalam mengakui keramahtamahan. Tanpa simpati, tidak akan ada rasa kepedulian dan kasih sayang terhadap orang lain di sekitar kita. Kedua, sikap hospitalitas dapat berfungsi sebagai kontrol dalam gereja, di mana setiap individu dalam gereja dapat menjadi pengontrol sosial di komunitasnya. Ketiga, setiap individu dalam gereja harus melihat individu lainnya sebagai saudara, sehingga setiap anggota gereja wajib memperlakukan satu sama lain dengan adil.