Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Krining Penyakit Tidak Menular (Hipertensi) Melalui Program Posbindu PMT Raihan Saiful Hakim; Cintya Maharani; Fadia Masfira; Natasya Mega Putri Fauzi; Shobiqo Ramdani Putri; Meydina Harum Afifah M; Nurul Izzah Azahari; Kinanti Kinanti; Tri Wahyuliati
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2023): Semnas PPM 6 Tahun 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ppm.61.1188

Abstract

Desa sebagai entitas pemerintahan terkecil dan lapisan pertama yang terdekat dengan masyarakat diharapkan dapat mengoptimalkan, memanfaatkan, dan mengelola setiap potensi dan aset daerah untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satu permasalahan yang harus diselesaikan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ialah permasalahan kesehatan. Salah satu permasalahan kesehatan yang ada di tengah masayarakat desa ialah permasalahan terkait dengan penyakit tidak menular, seperti hipertensi. Sebab, satu dari tiga orang dewasa di wilayah Asia Tenggara saat ini didiagnosis hipertensi dan setiap tahunnya lebih dari satu juta orang meninggal akibat hipertensi. Oleh karena itu, pemerintah pusat melalui kementrian Kesehatan membuat program-program yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit Hipertensi, beberapa program yang dilaksanakan Kemenkes seperti POSBINDU PTM, program P2 Hipertensi, dan PKM PANDU: promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif. Kampung Ngablak sebagai salah satu desa di Indonesia tentu tidak bisa lepas dari permasalahan Kesehatan terkait penyakit tidak menular. Di sektor kesehatan, Kampung Ngablak memiliki beberapa permasalahan penyakit tidak menular seperti hipertensi, stunting, serta permasalahan kesehatan gigi dan mulut pada anak. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran skrinning kesehatan yang dilaksanakan oleh Posbindu PTM dalam memberikan pengetahuan terkait Penyakit Tidak Menular (PTM) kepada Masyarakat. Metode pendekatan yang ditawarkan untuk mencapai tujuan dan realisasi program adalah pendekatan kualitatif deskriptif yang berdasarkan pada kegiatan POSBINDU. Dalam menjalankan kegiatan yang ada di dalam penelitian ini, menggunakan langkah-langkah teknik fasilitasi, mulai dari tahap persiapan hingga tahap akhir.
Penerapan Strength-Based Therapy Terhadap Peningkatan Self-Efficacy Pada Pasien Penyalahgunaan Napza: Case Report Cintya Maharani; Yanuar Fahrizal; Triyana
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.111

Abstract

Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain (NAPZA) muncul sebagai masalah kesehatan masyarakat global. Apabila NAPZA digunakan secara terus menerus dan berlebihan dapat mengakibatkan kecanduan. Kecanduan NAPZA baik jangka pendek maupun jangka panjang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental penggunanya. Ketika pecandu NAPZA tidak memiliki keyakinan untuk menghadapi masalah, maka akan berpeluang untuk relapse. Dalam mengurangi risiko relapse, self-efficacy memiliki peran penting membantu individu melawan keinginan untuk menggunakan NAPZA serta menjaga kesehatan mental dan fisik. Pendekatan psikologis seperti strength-based therapy dapat diterapkan untuk meningkatkan self-efficacy pasien pengguna NAPZA. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan self-efficacy pasien pengguna NAPZA melalui strength-based therapy. Metode penelitian ini menggunakan laporan kasus (case report) dengan pre-post experimental yang diterapkan kepada seorang responden laki-laki pecandu NAPZA yang sedang menjalani rehabilitasi di Soerojo Hospital, Magelang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu General Self-Efficacy Scale (GSES) yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Terdapat peningkatan self-efficacy dalam 3 kali evaluasi menggunakan kuesioner GSES. Sebelum dilakukan intervensi, pasien diberikan pre-test dan skor GSES menunjukkan angka 25 yang berarti rendah. Setelah pasien diberikan intervensi selama 5 hari, pasien diberikan post-test pertama dan didapatkan skor GSES 30. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan self-efficacy sebanyak 5 skor. Kemudian dilanjutkan intervensi hingga hari ke-10 dan dilakukan post-test kedua. Pada post-test kedua didapatkan skor 37 yang mana menunjukkan bahwa adanya peningkatan self-efficacy sebanyak 7 skor dari post-test pertama. Penerapan strength-based therapy dapat meningkatkan self-efficacy pasien pengguna NAPZA. Penerapan strength-based therapy memberikan manfaat untuk menggali dan memahami kekuatan diri sehingga dapat diterapkan untuk meningkatkan self-efficacy supaya tidak relapse setelah selesai menjalani masa rehabilitasi.