Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pinggiran yang Terpinggirkan: Keresidenan Banten Awal Abad Ke-20 Raka Prima Santosa; Siswantari Siswantari; Abdurakhman Abdurakhman
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 7 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i7.2776

Abstract

Penelitian ini membahas marginalisasi struktural Keresidenan Banten pada awal abad ke-20 di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kecenderungan historiografi Banten yang lebih banyak menyoroti masa Kesultanan Banten, Pemberontakan Petani 1888, dan Pemberontakan Komunis 1926, sementara kondisi sosial, ekonomi, dan politik Banten pada masa kolonial belum banyak dikaji secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan menjelaskan mengapa Banten, meskipun secara geografis dekat dengan Batavia sebagai pusat kekuasaan kolonial, tetap mengalami ketertinggalan ekonomi, keresahan sosial, dan posisi administratif yang periferal. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber primer penelitian berasal dari arsip kolonial, laporan pemerintah, dan surat kabar sezaman, serta didukung oleh literatur sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Banten mengalami marginalisasi berlapis akibat keterbatasan akses transportasi, rendahnya kesuburan tanah, minimnya perkembangan industri, lemahnya layanan kesehatan, beban pajak, dan rendahnya minat ekonomi pemerintah kolonial. Kondisi tersebut mendorong migrasi musiman dan memperkuat ketidakpuasan sosial masyarakat. Pembahasan juga menunjukkan peran penting elite lokal, terutama kyai dan jawara, dalam membentuk sentimen anti-kolonial dan tradisi perlawanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Banten bukan sekadar wilayah pemberontak, melainkan daerah yang terpinggirkan secara struktural akibat pengabaian kolonial.