Fredi Ardo Purba
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan antara Orang Hidup dan Meninggal: Kajian Etika Kristen terhadap Ritual Mambere Mangan Nadob Matei Riski Bartimeus Mart Purba; Fredi Ardo Purba
ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Program Pascasarjana UKIM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37429/arumbae.v6i1.1226

Abstract

The understanding of the relationship between the living and the dead is a problematic issue in Christianity, which generally separates the living and the dead. In contrast, traditional Simalungun beliefs recognize the existence of such a relationship, as seen in the ritual of mambere mangan na dob matei. This practice involves the provision of food for deceased ancestors, based on a deep respect for the ancestors as Naibata Nataridah (visible God), who are believed to bless the lives of their descendants. This study uses the literature study research method by conducting a literature review to analyze the Christian ethics of the ritual. The results show that through the Mambere Mangan Nadob Matei ritual, Simalungun Christians believe in the existence of a relationship between the living and the dead, which is based on respect for parents (ancestors) as Naibata Nataridah (visible God) who can bless the lives of their children.
Meniti jalur keadilan ekologis: Kajian etika lingkungan hidup tentang merawat alam berdasarkan ritual pangelekon Fredi Ardo Purba
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1077

Abstract

The ecological crisis is one of Indonesia's concrete problems, specifically illegal logging that has an impact on the Lake Toba area, starting from the loss of forest areas that cause natural disasters, such as landslides and flash floods. This provides a real picture of the consequences of activities and actions carried out by humans on the environment. Departing from this problem, the author sees that the study of environmental ethics in conjunction with the concept of Pangelekon in Toba Batak culture seeks to offer a perspective to overcome the increasingly alarming ecological crisis. This research was conducted using the literature study research method in data collection and analysis. The results show that the encounter between environmental ethics rooted in Pangelekon values creates a conceptual foundation that excites humans as stewards to care for nature as creation. Respect for nature in the Pangelekon concept encourages humans not to be reckless and hierarchical in viewing nature as a fellow creation. Thus, the encounter between environmental ethics and Pangelekon provides a comprehensive answer, as a concept of life lived to achieve harmony between humans and nature.   Abstrak  Krisis ekologis merupakan salah satu persoalan konkret di Indo-nesia, secara khusus penebangan hutan secara liar yang memberikan dam-pak bagi kawasan Danau Toba, mulai dari, hilangnya kawasan hutan yang menyebabkan bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir bandang. Hal tersebut memberikan gambaran nyata akan konsekuensi atas aktivitas dan perbuatan yang dilakukan manusia terhadap lingkungan. Berangkat dari persoalan ini, saya melihat bahwa kajian etika lingkungan hidup yang diperjumpakan dengan konsep pangelekon dalam budaya Batak Toba me-nawarkan perspektif untuk mengatasi krisis ekologi yang semakin mem-prihatinkan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pene-litian studi pustaka dalam pengumpulan dan analisis data. Hasil peneli-tian menunjukkan bahwa perjumpaan antara etika lingkungan hidup yang berakar pada nilai-nilai pangelekon menciptakan landasan konseptual yang menggairahkan manusia sebagai penatalayan untuk merawat alam seba-gai ciptaan. Penghargaan terhadap alam dalam konsep pangelekon men-dorong manusia untuk tidak sembrono dan hierarkis dalam memandang alam sebagai sesama ciptaan. Dengan demikian, perjumpaan antara etika lingkungan hidup dan pangelekon memberikan jawaban komprehensif, sebagai sebuah konsep kehidupan yang dijalani untuk mencapai kehar-monisan antara manusia dan alam.
Di Bawah Bayang-bayang TPL: Ekologi Pembebasan Untuk Memulihkan Kawasan Danau Toba: Teologi Pembebasan untuk Memulihkan Ekologi Danau Toba Fredi Ardo Purba; Elsami Castigliani Huka
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 14 No 1 (2024): December
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v14i1.273

Abstract

Kawasan Danau Toba akhir-akhir ini mengalami krisis ekologi yang signifikan. krisis tersebut disebabkan oleh aktivitas PT. Toba Pulp Lestari (TPL), yang mengakibatkan terjadinya deforestasi, pencemaran air, dan perusakan lahan, bahkan bencana alam seperti tanah longsor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekologi pembebasan melihat aktivitas yang dilakukan TPL sebagai dosa sosial, di mana ketamakan dan eksploitasi yang dilakukan oleh segelintir orang merugikan banyak pihak, termasuk alam dan masyarakat adat yang telah lama hidup berdampingan secara harmonis dengan lingkungannya. Ekologi pembebasan menuntut solidaritas dengan mereka yang menderita akibat ketidakadilan ekologis, yaitu alam dan masyarakat di kawasan Danau Toba. Kajian ekologi pembebasan menjadi dasar dibangunnya sebuah kesadaran baru tentang ekonomi yang peduli terhadap keberlangsungan alam, guna memulihkan kawasan Danau Toba.