Verry Willyam
Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kualitas Orang Benar di Tengah Relativitas Postmodernisme : Sebuah Kajian Narrative Criticism terhadap Kejadian 18:16-33 Samuel Wasikin; Verry Willyam
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 13 No 1 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v13i1.198

Abstract

Today, Christianity is facing a decline in morals and faith in the era of progress and advancement. The current generation lacks an understanding of the importance of moral ethics in building healthy and proper relationships. The Post-Modernism era has brought a mindset of relativism, making it easier for people to weigh everything, including technology. The purpose of this article is to explore the meaning of the righteous person in Genesis 18:16-33 the relevance of the life righteous in the postmodern era. The method presented in this writing is by using the Narrative Criticism approach to the book of Genesis 18:16-33, where Abraham converses with God in his intercession for Sodom and Gomorrah. Abraham seeks to advocate for the "righteous people" so that God may spare the city, but the number he proposes is not fulfilled. And ultimately, the profound meaning of the "righteous people" is those who live according to divine law and have faith in God. In the postmodern era, views on truth are relative, but Abraham's story shows that God still values the existence of righteous individuals amidst moral decay. Believers need to uphold religious values and become examples that glorify God in facing the changes of time.
Suara Kenabian dan Personalitas Hamba Tuhan terhadap Generasi Milenial di Era Digital Mariani Harmadi; Verry Willyam
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 14 No 1 (2024): December
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v14i1.266

Abstract

Deklinasi fungsi gereja terlihat jelas dengan meredupnya suara kenabian di tengah degradasi moral yang melanda dunia. Gereja, sebagai garam dan terang dunia menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensinya sebagai penuntun moral dan spiritualitas orang percaya. Pemimpin gereja, yang seharusnya berperan menjangkau yang terhilang, sering kali gagal dalam berkomitmen dan rela berkorban menjawab tantangan global. Perkembangan globalisasi membawa relativisme kebenaran, sekularisasi, dan konsumerisme yang dapat mengikis iman, terutama di kalangan generasi muda. Metode yang digunakan pada riset ini yaitu deskriptif terhadap literatur yang diteliti, dikutip dan disintesiskan dari pelbagai hasil kajian kepustakaan teologi biblika, hermeneutika, dan bidang sosial untuk menghasilkan suatu perenungan kembali tentang misi mulia dan agung atas penempatan Allah dan panggilan serta karunia hamba Tuhan melalui suara kenabian. Artikel ini bertujuan menjawab krisis pada personalitas hamba Tuhan sebagai pemimpin dalam memuridkan generasi remaja di era digital sebagai pemimpin masa depan, di tengah tantangan menurunnya kebutuhan akan inisiatif dari orang-orang pilihan Allah yang berkarunia kenabian yang lantang menyuarakan kebenaran di dalam gereja yang bertujuan untuk menanamkan benih iman, kritik etis dalam menghadapi degradasi moral, dan menuntun generasi pada transformasi spiritual yang utuh. Melalui suara kenabian yang kuat, gereja dapat kembali memainkan perannya sebagai agen perubahan yang berdampak di era digital ini.