Winarini Wilman D. Mansoer
Faculty of Psychology, Universitas Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemaknaan orang tua yang kehilangan anak dalam peristiwa kekerasan politik: Studi fenomenologi Stefany Valentia; Winarini Wilman D. Mansoer
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 6 No 2 (2019)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu95

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman dan pemaknaan orang tua yang anaknya meninggal dalam peristiwa kekerasan politik pada tahun 1998. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Partisipan merupakan orang tua dari mahasiswa yang menjadi korban pada peristiwa tersebut (sering disebut sebagai Pahlawan Reformasi) dan partisipan dipilih berdasarkan ketersediaan sumber daya peneliti. Pengambilan data dilakukan melalui proses wawancara mendalam. Dari hasil wawancara dengan partisipan, ditemukan beberapa tema dalam pengalaman dan pemaknaan ayah maupun ibu, yaitu kesedihan mendalam; kemarahan yang besar; tidak menerima kematian anak; kehilangan kebahagiaan, kehangatan, semangat, dan harapan; menarik diri dari kehidupan sosial; bangkit karena dukungan sosial; memperjuangkan keadilan hukum; serta keimanan. Hasil analisa menunjukkan bahwa meskipun sudah 20 tahun lebih berlalu sejak peristiwa kematian anak, partisipan masih terus mengalami perasaan berduka yang kompleks. Kedua orang tua memaknai kematian anak mereka sebagai pengorbanan dan perjuangan yang belum selesai. Oleh karena itu, mereka berkomitmen untuk menyelesaikan perjuangan tersebut dengan menuntut keadilan hukum.
Pengalaman individu dengan riwayat kleptomania Reti Oktania; Winarini Wilman D. Mansoer
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu105

Abstract

Kleptomania merupakan sebuah gangguan yang dikarakteristikkan dengan adanya dorongan untuk melakukan tindakan mencuri benda-benda tidak dibutuhkan dan tidak menguntungkan. Dorongan tersebut muncul tak tertahankan dan terjadi berulang kali. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana individu yang pernah menampilkan gejala kleptomania memaknai pengalaman terkait perilaku kleptomanianya. Untuk memahami fenomena tersebut dengan lebih mendalam, penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu studi autoetnografi terhadap diri peneliti sendiri dan studi fenomenologi terhadap dua orang partisipan. Hasil kedua studi menunjukkan bahwa seluruh partisipan memunculkan perilaku kleptomania sejak usia anak-anak dan menunjukkan latar belakang keluarga yang tidak harmonis. Terdapat enam tema yang dimaknai secara berbeda antar partisipan, yaitu: kekecewaan kepada orang tua, perasaan putus asa, dorongan yang kuat, perasaan malu, perasaan tidak pernah puas, dan keinginan untuk memperbaiki diri. Enam tema tersebut kemudian disimpulkan menjadi tiga tema besar, yaitu: latar belakang keluarga, dinamika internal partisipan, dan keputusan untuk memperbaiki diri.
"Mengapa Tuhan mengambil mereka?" Pengalaman duka dan pemaknaan anak yang kehilangan kedua orang tua secara berurutan Roselli Kezia Ausie; Winarini Wilman D. Mansoer
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 8 No 2 (2021)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu137

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman serta pemaknaan individu terhadap kematian kedua orang tua. Wawancara dengan desain fenomenologi dilakukan terhadap perempuan 23 tahun yang kehilangan kedua orang tua secara berurutan dalam waktu singkat. Data dianalisis menggunakan teknik deskripsi tekstural. Peristiwa meninggalnya ibu didahului dengan proses sakit yang panjang, sehingga muncul firasat buruk dan cemas. Sementara itu, kehilangan ayah yang mendadak memunculkan perasaan bingung dan penyangkalan. Setelah orang tua meninggal, partisipan merasa kosong dan sendirian, serta kehilangan motivasi dan arah. Setelah hampir empat tahun berlalu, marah kepada Tuhan dan kebingungan terhadap agama muncul bersama dengan konflik antar saudara. Secara keseluruhan, tema yang muncul adalah penyangkalan, depresi, dan kemarahan. Partisipan belum dapat menerima dan memaknainya sebagai peristiwa menyakitkan. Studi ini menggambarkan proses pemulihan yang tidak mudah pasca kehilangan yang berurutan, dan dukungan sosial yang tulus dan berkelanjutan, serta ruang untuk mengekspresikan emosi dibutuhkan untuk dapat mengatasi kedukaan secara adaptif.
Eksplorasi dampak negatif dan positif pengalaman body shaming melalui pendekatan autoetnografi Annisa Dwi Astuti; Winarini Wilman D. Mansoer
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 8 No 2 (2021)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu212

Abstract

Body shaming, atau mempermalukan seseorang karena bentuk tubuhnya, baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun orang lain, dapat memicu respons negatif terhadap korban. Studi autoetnografi ini bertujuan untuk menggali bagaimana individu memaknai pengalaman malu terkait tubuh. Partisipan adalah peneliti sendiri dan dua orang wanita dewasa muda yang memiliki pengalaman malu terkait tubuh. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pengalaman malu terkait tubuh memunculkan emosi negatif pada semua partisipan. Akan tetapi, terdapat dampak yang berbeda di setiap partisipan. Hasil studi dirangkum dalam tujuh tema besar, yaitu kemunculan malu terkait tubuh, alasan melakukan diet, dampak negatif, strategi koping, malu terkait tubuh saat dan setelah diet, dampak positif, dan dukungan menghadapi malu terkait tubuh. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang fenomena malu terkait tubuh, dampaknya, dan berbagai strategi untuk mengatasi pengalaman tersebut.