Hilma Rosdiana
Universitas Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MOBILISASI JEPANG TERHADAP PRODUKSI BERAS DI JAWA TAHUN 1942-1945 Hilma Rosdiana; Rizky Khairina
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v12i1.37003

Abstract

Saat menghadapi perang pada tahun 1942, Jepang melebarkan wilayah pendudukannya sampai ke Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Pendudukan Jepang telah merubah struktur ekonomi Jawa secara besar-besaran. Jawa memiliki tanah yang subur dan tenaga kerja yang cukup memadai yang baik untuk penanaman beras. Namun, pada masa pendudukan Jepang terjadi penurunan produksi bahan pangan. Jepang berusaha untuk meningkatkan hasil produksi pangan di Jawa untuk kepentingan memenuhi kebutuhan perang. Produksi bahan makanan untuk pasukan militer diberi prioritas tertinggi. Mobilisasi pemerintah militer Jepang terhadap bidang pertanian dalam usaha untuk meningkatkan bahan pangan khususnya, dilakukan dengan berbagai upaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui, pertama, bagaimana latar belakang pendudukan Jepang di Jawa. Kedua, bagaimana kebijakan Jepang dalam upaya meningkatkan produksi beras di Jawa. Ketiga, bagaimana dampak pendudukan Jepang bagi penduduk di Jawa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil temuan setelah dilakukannya penelitian ini, bahwa sagala upaya dan kebijakan Jepang dalam mobilisasi produksi beras di Jaawa tidak begitu berhasil, bahkan tingkat produksi sebelumnya pun tidak bisa dipertahakan. Hal itu terjadi karena Jepang tidak memperhatikan kondisi alam Jawa yang tidak cocok dengan kebijakan yang dikeluarkannya dan korupsi yang dilakukan pangreh praja. 
Tradisi, Seni, dan Beladiri (Kajian Historis Perkembangan Perguruan Silat Maung Pande di Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang tahun 2005-2020) Hilma Rosdiana; Tubagus Umar Syarif Hadi Wibowo; Nashar Nashar
Jurnal Artefak Vol 12, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v12i2.17778

Abstract

This research aims to examine the dynamics of the Maung Pande martial arts school in Menes Subdistrict, Pandeglang Regency, from 2005 to 2020, and to explain the functions of Pencak Silat as an art, tradition, and martial practice. The research method used is the historical method, which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The findings show that the Maung Pande martial arts school was founded in 1975 by Abah Kemed and Abah Asmail, based on the Cimande style of silat, with the purpose of fostering silat practitioners in Pandeglang Regency in particular. The term Maung Pande means “Excellent Human of Pandeglang” and the school has grown to 240 branches across Indonesia, with 32 branches in Pandeglang Regency and 3 in Menes Subdistrict. Since its official establishment in 2005 until 2020, Pencak Silat in the Maung Pande school has undergone a transformation, serving as a medium for sports, spiritual and mental education, martial knowledge, an art with aesthetic movement values, as well as community entertainment during weddings, circumcision ceremonies, and cultural festivals. This reflects the transformation of the functions of the Maung Pande martial arts school. However, in 2020 the school experienced a decline due to the Covid-19 pandemic, which hampered its activities as a result of large-scale social restrictions aimed at preventing the spread of the virus.