This Author published in this journals
All Journal Megasains
Leni Nazarudin
BMKG

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Simulasi Proyeksi Produksi Padi Tahun 2030-2062 Dibandingkan Produksi Padi Tahun 1980-2012 Menggunakan Model AquaCrop di Banyuwangi Jawa Timur Leni Nazarudin
Megasains Vol 10 No 1 (2019): Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v10i1.169

Abstract

Menggunakan data harian iklim periode 1980-2012 (33 tahun) dari Stasiun Meteorologi Banyuwangi Jawa Timur, telah dibuat proyeksi suhu maksimum, suhu minimum dan evapotranspirasi potensial (ETo) serta curah hujan 50 tahun ke depan (2030- 2062) berdasarkan tren linier perubahannya pada periode historis. Menggunakan data iklim historis (1980- 2012) dan data iklim proyeksi (2030- 2062), dilakukan simulasi produksi padi menggunakan model AquaCrop. Suhu malam hari (suhu minimum) meningkat dengan laju yang lebih besar daripada suhu siang (suhu maksimum). Proyeksi suhu maksimum di Banyuwangi pada tahun 2030-2062 berada pada kisaran 31.6°C – 32.2 °C dan suhu minimum pada kisaran 24.8°C – 26.0°C. Evapotranspirasi mengalami penurunan 0.3 mm/hari dari 1497 mm/tahun di tahun 1980 menjadi 1390 mm/tahun di tahun 2030 dan 1320 mm/tahun di tahun 2062. Dengan asumsi terjadi peningkatan curah hujan ekstrim sebesar 30%, curah hujan pada puncak musim hujan bertambah dan curah hujan pada puncak musim kemarau berkurang. Produksi padi pada tahun 2030-2062 diproyeksikan meningkat setiap bulan sepanjang tahun sekitar 1 ton kecuali bila tanam pada bulan April. Peningkatan curah hujan di masa mendatang, memperpanjang musim tanam padi yang semula 9 bulan dalam setahun menjadi 11 bulan
HUJAN ASAM DI CITEKO BOGOR DAN KEMAYORAN JAKARTA Leni Nazarudin
Megasains Vol 7 No 3 (2016): Vol 7 No 3 (2016)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i3.196

Abstract

Menggunakan data ion sulfat dan ion nitrat yang tertampung di stasiun pengamatan kualitas udara di Citeko, Puncak Bogor dan di Kemayoran, Jakarta Pusat dari tahun 1993 – 2012, telah dilakukan perhitungan deposisi asam menggunakan teknik analisis kation dan anion dari sampel air hujan menggunakan metode ion kromatografi. Wilayah Citeko yang berada di wilayah puncak Bogor telah terekspose hujan asam. Deposisi asam di Citeko rata- rata 10.5 meq/m2/bulan setara dengan 5.04 kg/ha/bulan dengan kisaran antara 6.11 – 13.03 meq/m2/bulan. Di Kemayoran, deposisi asam bulanan rata-rata sebesar 8.5 meq/m2/bulan atau setara dengan 4.08 kg/ha /bulan dengan kisaran antara 5.15 - 15.2 meq/m2/bulan. Di kedua lokasi, jenis asam yang terdeposisi sebagian besar dari kontribusi asam sulfat masing masing 69.9% di Kemayoran dan 64.9 di Citeko. Di Kemayoran, asam sulfat terdeposisi lebih banyak daripada di Citeko. Nitrat terdeposisi lebih banyak di Citeko daripada di Kemayoran. Berdasarkan data windrose bulanan dan normal tahunan di Citeko, kemungkinan telah terjadi transpor polutan SO2 dan NO2 yaitu dari wilayah DKI Jakarta, Depok, Tangerang dan sekitarnya ke wilayah puncak Bogor. Vektor angin lokal (angin laut-darat) juga berperan dalam membawa polutan ke daerah Citeko di Puncak Bogor
DETEKSI PERUBAHAN IKLIM DARI DATA CURAH HUJAN BULANAN DI KALIMANTAN BARAT Leni Nazarudin
Megasains Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013)
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/d4fh3p37

Abstract

Telah dilakukan kajian untuk mendeteksi perubahan iklim dengan menggunakan data curah hujan bulanan dari 59 titik pengamatan di Kalimantan Barat. Uji statistik Mann-Kendall dan metode Sens digunakan dalam penelitian ini. Nilai tren tersebut ditampilkan dalam bentuk peta spasial dengan menggunakan metode interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW). Hasil penelitian menunjukkan Kalimantan Barat mempunyai pola curah hujan bimodal (dua puncak hujan), dengan puncak pertama terjadi pada bulan April, dan puncak kedua terjadi pada bulan Desember. Curah hujan tahunan di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat menunjukkan tren penurunan yang signifikan pada kisaran 1-70 mm/tahun. Curah hujan pada bulan-bulan kering (Juni dan Juli) meningkat secara signifikan sebesar 1-10 mm/bulan di sebagian besar wilayah. Sebaliknya, pada musim hujan (Maret, Mei dan November hingga Januari), curah hujan menurun secara signifikan di sebagian besar wilayah, terutama di bagian selatan dan barat.