Nurul Ludfia Rochmah
MAN 1 Banyuwangi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ALIH WAHANA CERPEN MENJADI SANDIWARA SINIAR SEBAGAI BENTUK INOVASI PEMBELAJARAN APRESIASI CERPEN Nurul Ludfia Rochmah
Madaris: Jurnal Guru Inovatif Vol 2 No 1 (2022): JURNAL MADARIS EDISI KHUSUS ISOE TAHUN 2022
Publisher : Direktorat GTK Madrasah Ditjen Pendis Kementerian Agama Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk inovasi pembelajaran apresiasi cerpen yang merupakan mata pelajaran peminatan bahasa Indonesia untuk kelas XII bahasa semester ganjil. Bentuk inovasi ini menggunakan kanal digital berbasis audio dan digunakan sebagai media pembelajaran mengapresiasi cerita pendek. Saluran siniar dipilih sebagai inovasi media pembelajaran setelah mempertimbangkan bahwa di era kelimpahan ini, saluran digital merupakan salah satu media yang cocok dan akrab di kalangan milenial. Alur proses penerapan inovasi pembelajaran dilakukan melalui tujuh tahap, mendengarkan contoh drama, menulis cerita pendek, menyusun naskah lakon yang diadaptasi dari naskah cerita pendek, membagi peran dalam lakon, merekam lakon yang dimainkan, dan mengunggahnya di saluran siniar. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menyenangkan dan berkarakter karena siswa dapat berkreasi melalui androidnya masing-masing. Para siswa menulis cerpen, mengubah cerita pendek menjadi naskah sandiwara, berbagi peran, berlatih akting, merekam sandiwara yang dimainkan, dan mengunggahnya melalui aplikasi siniar. Proses pembelajaran ini menghasilkan sikap mandiri, kreatif, aktif, kooperatif, tidak mementingkan diri sendiri untuk mengapresiasi cerpen dalam bentuk kreatif yaitu sandiwara melalui kanal siniar
Mengenal Mocoan Qosidah Burdah Mondoluko Banyuwangi, tantangan dan peluang revitalisasinya Nurul Ludfia Rochmah
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 15, No 1 (2026): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2026)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v15i1.239

Abstract

Penelitian ini membahas tantangan dan peluang revitalisasi seni tradisi Mocoan Qosidah Burdah (MQB) di Mondoluko, Banyuwangi, sebagai bagian dari warisan budaya yang kaya akan nilai spiritual. Meskipun memiliki makna religius mendalam dan menjadi bagian penting dari upacara keagamaan masyarakat, MQB menghadapi ancaman kepunahan akibat rendahnya partisipasi generasi muda. Dominasi pelaku seni senior dan budaya "segan" menjadi penghambat regenerasi, sedangkan metode pembelajaran tradisional yang bergantung pada penyimakan manual tanpa panduan tertulis menyulitkan generasi muda untuk mempelajari MQB secara mandiri.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Fokus Group Discussion (FGD) dengan pelaku seni, generasi muda, dan tokoh masyarakat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya keterlibatan generasi muda disebabkan oleh kurangnya akses pengetahuan, dominasi pelaku senior, dan ketidaksesuaian metode pembelajaran tradisional. Sebagai solusi, penelitian ini merekomendasikan strategi revitalisasi berbasis pendidikan, teknologi digital, dan penguatan komunitas, termasuk pengembangan modul pembelajaran dan platform digital untuk memfasilitasi pewarisan seni tradisi secara adaptif dan berkelanjutan. This study examines the challenges and opportunities of revitalizing the traditional art of Mocoan Qosidah Burdah (MQB) in Mondoluko, Banyuwangi, as part of a cultural heritage rich in spiritual values. Despite its profound religious significance and its role as an essential part of community religious ceremonies, MQB faces the threat of extinction due to low participation among younger generations. The dominance of senior artists and a culture of "reluctance" hinder regeneration, while the traditional learning method, which relies on manual listening without written guidelines, makes it difficult for younger generations to learn MQB independently.This research employs a qualitative approach with a case study method, involving in-depth interviews, participatory observation, and Focus Group Discussions (FGD) with artists, young generations, and community leaders.The findings reveal that the low involvement of young people is due to limited access to knowledge, dominance by senior artists, and the unsuitability of traditional learning methods. As a solution, this study recommends a revitalization strategy based on education, digital technology, and community empowerment, including the development of learning modules and digital platforms to facilitate the adaptive and sustainable transmission of traditional arts.