Abstrak: Bahasa Indonesia memiliki kedudukan strategis sebagai bahasa persatuan dan negara, namun eksistensinya kini menghadapi tantangan akibat maraknya penggunaan bahasa gaul dan pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Minang di kalangan generasi muda Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor penyebab, dampak, serta upaya meningkatkan pemahaman bahasa Indonesia yang baku pada generasi muda Sumatera Barat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang berumur 16–30 tahun dan berdomisili di Sumatera Barat. Hasil dari penelitian ini adalah sebanyak 115 responden yang tersebar di 16 wilayah Sumatera Barat menunjukkan bahwa penggunaan bahasa gaul dan Minang didorong oleh rasa kenyamanan komunikasi, kebutuhan identitas budaya, serta pengaruh lingkungan dan media sosial. Secara subjektif, generasi muda masih merasa bangga dan termotivasi mempelajari bahasa Indonesia, namun analisis kritis berdasarkan teori interferensi dan pergeseran bahasa mengungkapkan adanya dampak laten berupa ketidaksadaran terhadap penyimpangan kaidah yang berpotensi mengikis kemampuan berbahasa baku, terutama dalam konteks formal. Upaya yang paling disarankan adalah penerapan wajib berbahasa Indonesia di lingkungan pendidikan serta program pendukung yang menarik, guna menyeimbangkan pelestarian bahasa daerah dan bahasa nasional. Kata Kunci: Bahasa gaul; Bahasa Minang; Bahasa Indonesia; Pemahaman bahasa; Generasi muda. Abstract: Indonesian holds a strategic position as the language of unity and the state language, however its existence now faces challenges due to the widespread use of slang and the influence of regional languages, particularly the Minang language, among the younger generation in West Sumatera. This study aims to identify the contributing factors, impacts, and effort to improve the understanding of standard Indonesian among the younger generation in West Sumatera. The method used in this study is descriptive quantitative research conducted by distributing questionnaires to respondents aged 16–30 years residing in West Sumatera. The results of this study, based on 115 respondents spread across 16 regions in West Sumatera, indicate that the use of slang and the Minang language is driven by a sense of comfort in communication, the need for cultural identity, as well as the influence of the environtment and social media. Subjectively, the younger generation still feels proud and motivated to learn Indonesian, however a critical analysis based on interference and language shift theories reveals latent impacts in the form of unconscious deviations from grammatical norms that have the potential to erode proficiency in standard language, particularly in formal context. The most recommended approach is the mandatory use of Indonesian in educational settings, along with engaging support programs, to balance the preservation of regional languages and the national language. Keywords: Slang; Minang language; Indonesian language; Language comprehension; Young people