Adrian Lucas Teja
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

OMAH SENI: PENGEMBANGAN SENI LUKIS DI PASAR BARU JAKARTA Adrian Lucas Teja; Sutrisnowati Machdijar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24211

Abstract

Empathy means to feel and understand what another person is feeling. An architect must understand space and the thought process of its users. If an architect knows how the user sees and feels a space, it will be easy to design for them. Empathetic architecture is linked to the street painting community. In Indonesia, street painters are commonly seen as paintings across a sidewalk, in a store or even kiosks. Areas that are famous for their street artists include Pasar Baru, Kota Tua, Pasar Seni Ancol in Jakarta, Jalan Braga in Bandung, and Jalan Simpang in Surabaya. So this project was inspired from Architectural Empathy for the street artist community in Pasar Baru, Central Jakarta. They have recently experienced job withdrawals and a lack of customers due to a lack of interest by the younger generation in their paintings, as well as a location that does not support their work. This analysis is done with the descriptive-qualitative method based on personal data. This project aims to fix the life of the artists, by integrating prorams that will increase the demography of customers. The concept used is facadism because the project is situated in a building that has historic potential. Keywords:  Age; Potential; Sentra Lukis Abstrak Empati berarti merasakan dan memahami perasaan orang lain. Seorang arsitek harus memahami ruang dengan pola pikir penggunanya. Jika arsitek tahu persis bagaimana pengguna melihat dan mengalaminya, akan mudah merancang ruang untuk para seniman. Empati Arsitektur ini dikaitkan dengan komunitas seniman jalanan. Di Indonesia,  jasa pelukis jalanan sering dijumpai dalam bentuk pajangan lukisan di sepanjang trotoar, di dalam ruko atau bahkan pada sederet kios yang disediakan pengelola setempat untuk para pelukis. Daerah-daerah yang terkenal dengan pelukis jalannya antara lain Pasar Baru, Kota Tua, Pasar Seni Ancol di Jakarta, Jalan Braga di Bandung, dan Jalan Simpang di Surabaya. Maka proyek ini diangkat dari Empati Arsitektur terhadap komunitas seniman jalanan di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Mereka belakangan ini mengalami pengurangan lapangan kerja dan sepinya pelanggan yang dikarenakan kurangnya minat generasi muda terhadap lukisan mereka, serta lokasi yang kurang mendukung pekerjaan mereka. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif-kualitatif berdasarkan analisis pribadi dari wawancara masyarakat. Maka proyek ini bertujuan memperbaiki ruang hidup para seniman, dengan mengintegrasikan program-program yang diharapkan dapat meluaskan demografi pelanggan, menarik perhatian dunia terhadap komunitas seniman jalanan, serta mempersiapkan para seniman terhadap perkembangan zaman yang digital. Konsep desain yang digunakan adalah facadism karena proyek mengambil tapak dengan bangunan yang memiliki langgam arsitektur bersejarah.