Naniek Widayati
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU DAN WELL-BEING PADA WADAH KOMUNITAS BAGI LANSIA KESEPIAN DAN TINGGAL SENDIRI Reinald Audiel; Naniek Widayati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24298

Abstract

Indonesia has eight provinces that have entered the phase of an aging population structure. Meanwhile, DKI Jakarta has 8.91% of its population consisting of elderly individuals. The elderly phase is the final stage of life. During this phase, individuals experience physiological, affective, cognitive, and psychosocial declines, making the presence of someone who can assist and accompany the elderly in their daily activities crucial. This often leads to feelings of loneliness in the elderly, as they sometimes miss their children or require socialization and activities to fill their time.The objective of this research is to provide a platform for the elderly to experience happiness, peace, and prosperity, and to change the perception that old age marks the beginning of life and that entering old age means reaping the rewards of our hard work in our younger years and enjoying the present. Through this research, it is hoped to develop a design solution that helps the elderly overcome loneliness. The methods employed in this research are qualitative methods and design methods that focus on the phenomenon of abandoned elderly individuals as the basis for the design. Based on the research findings, it is found that the housing and community club design concept of the Senior Cielo Community Club, utilizing a behavioral architecture and well-being approach, can be an effective alternative in assisting abandoned and lonely elderly individuals in achieving a more peaceful, prosperous, and meaningful life. Keywords:  community centre; elderly; loneliness Abstrak Indonesia memiliki delapan provinsi yang sudah memasuki fase struktur penduduk tua. Sedangkan DKI Jakarta memiliki 8,91% penduduk lansia. Masa lansia ini merupakan masa paling akhir dalam fase kehidupan. Dalam masa ini, manusia akan mengalami penurunan fisiologis, afektif, kognitif, maupun psikososial sehingga keberadaan orang yang dapat membantu dan menemani lansia dalam aktivitas sehari-hari sangat diperlukan. Hal inilah yang seringkali menyebabkan loneliness/kesepian dalam diri lansia karena kadang lansia merasa rindu dengan anaknya/membutuhkan kegiatan sosialisasi dan aktivitas-aktivitas yang dapat mengisi waktu lansia. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mewadahi lansia untuk mendapatkan rasa bahagia, damai, sejahtera dan mengubah persepsi bahwa usia lansia ini adalah awal dari kehidupan dan memasuki masa tua berarti kita memetik hasil kerja keras kita di usia muda dan waktunya untuk berbahagia. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan olah rancangan yang membantu lansia bebas dari rasa kesepian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan metode desain yang berfokus pada fenomena lansia terlantar sebagai dasar dari perancangan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa rancangan hunian dan pusat komunitas yang mengusung konsep Community Club Senior Cielo dengan pendekatan arsitektur perilaku dan kesejahteraan dapat menjadi alternatif yang efektif dalam membantu lansia yang terlantar dan kesepian untuk mencapai kehidupan yang lebih damai, sejahtera, dan bermakna.  
PANTI ASUHAN UNTUK ANAK TERLANTAR DENGAN PENDEKATAN THERAPEUTIC HEALING Valencia Amadea Marin; Naniek Widayati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24299

Abstract

Abandoned children are a type of social welfare problem that is still unresolved. These children still do not receive optimal care, even though they have access to education and temporary shelter from orphanages. This is also driven by the problem of the capacity of orphanages exceeding the amount that should be. This lack of parenting affects the growth and development of children, especially in their psychosocial aspects. Most of the characters formed in abandoned children at the orphanage are divided into 2: inferior (passive) and superior (anarchist). Therefore, this design was created to help accommodate the growth dan development of children from the age of 5-12 years by providing intense assistance and programs that encourage children's psychosocial development. The aim is to provide a comfortable place and provide the necessary facilities such as temporary shelter and more practical education to prepare children to enter the world of work. The method used in this research is qualitative by conducting interviews with several neglected children and caretakers and experts at the orphanage. In addition, data collection is also done by conducting case studies from several related precedents. The results were then analyzed with existing theory so that conclusions were obtained as the basis for planning an orphanage project for neglected children with a therapeutic healing concept (the building design is focused on its users so that the space can accommodate the psychological recovery of its inhabitants). Keywords:  healing; neglected children; orphanage Abstrak Anak terlantar merupakan salah satu jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial yang masih belum terselesaikan. Anak–anak ini masih belum mendapatkan pengasuhan secara maksimal meski sudah mendapatkan akses pendidikan dan tempat singgah sementara dari panti asuhan. Hal ini juga didorong dengan permasalahan kapasitas panti asuhan melebihi jumlah yang seharusnya. Kurangnya pengasuhan ini mempengaruhi tumbuh kembang anak khususnya dalam psikososialnya. Karakter yang terbentuk dalam diri anak-anak terlantar di panti asuhan ini mayoritas terbagi menjadi 2 yakni inferior (pasif) dan superior (anarkis). Oleh karena itu, perancangan ini dibuat untuk membantu mewadahi pertumbuhan dan perkembangan anak dari usia 5-12 tahun dengan memberikan pendampingan intens serta program yang mendorong perkembangan psikososial anak. Tujuannya memberikan wadah yang nyaman dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan seperti hunian sementara dan pendidikan yang lebih praktis untuk mempersiapkan anak – anak masuk ke dalam dunia kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan cara mengadakan wawancara kepada beberapa anak terlantar dan pengurus serta para pakar di panti asuhan. Selain itu, pengambilan data juga dengan melakukan studi kasus dari beberapa preseden terkait. Hasil kemudian dianalisis dengan teori yang ada sehingga didapatkan kesimpulan sebagai dasar dari perencanaan proyek panti asuhan untuk anak terlantar yang berkonsep therapeutic healing (desain bangunan difokuskan kepada penggunanya sehingga ruang tersebut dapat mewadahi pemulihan psikis penghuninya).
PEREMAJAAN KAMPUNG KOJA MELALUI PENDEKATAN DESAIN KAMPUNG VERTIKAL YANG “ADAPTIF BANJIR” SEBAGAI BENTUK EMPATI TERHADAP KAUM MARGINAL BANTARAN KALI Michael Gunawan Tjen; Naniek Widayati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24300

Abstract

Jakarta is a city that still has a marginal society from an economic, social and cultural perspective. They usually live in a settlement on the outskirts of the city in the form of an unstructured village. Kampung Koja RT 06 is one of the marginal group settlements in North Jakarta with the character of living space in the riverbank area. On the other hand, the residents do not want to be relocated, so the chosen alternative is to create settlements and the environment must be friendly to water. The existing problem is that the quality of habitation is decreasing day by day due to the inability of adaptive housing to water. In such conditions, the designer's empathy appears to design a residential system that is capable of being adaptive to flood conditions and normal conditions by considering topography, water flow, and vegetation. The method used was qualitative, namely studying literature, field observations, interviewing residents and RT heads so that data on the specific needs of residents to live on the banks of the river were obtained. The aim of the research is to get livable and friendly settlements with water. The design solution applied is a vertical village design approach with a stilt house system, improvement of the Koja area through land consolidation to open water absorption spaces as well as local social facilities, and naturalization of river banks. Through the concept of adaptive housing, this project can create a village that is friendly to water when it comes. Keywords:  empathy; flood; koja village RT 06; marginalized riverbanks Abstrak Jakarta merupakan kota yang masih memiliki masyarakat marginal dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Mereka biasanya tinggal pada suatu permukiman di pinggiran kota berupa kampung yang tidak terstruktur. Kampung Koja RT 06 merupakan salah satu permukiman kelompok marginal di Jakarta Utara dengan karakter ruang bermukim di area bantaran kali. Pada sisi lain warga tidak ingin direlokasi sehingga alternatif terpilih adalah menciptakan permukiman dan lingkungan harus bersahabat dengan air. Permasalahan yang ada adalah semakin hari terjadi kemerosotan kualitas berhuni disebabkan karena ketidakmampuan hunian adaptif terhadap air. Pada kondisi demikian, empati perancang muncul untuk merancang sistem hunian yang mampu adaptif terhadap kondisi banjir maupun kondisi normal dengan mempertimbangkan topografi, aliran air, dan vegetasi. Metode yang dilakukan dengan cara kualitatif, yaitu mempelajari literatur, observasi lapangan, wawancara terhadap warga maupun ketua RT sehingga didapatkan data kebutuhan warga yang spesifik dalam bermukim di bantaran kali tersebut. Tujuan penelitian adalah mendapatkan permukiman layak huni dan bersahabat dengan air. Solusi perancangan yang diterapkan adalah pendekatan desain kampung vertikal dengan sistem rumah panggung, perbaikan kawasan Koja melalui konsolidasi lahan untuk membuka ruang peresapan air sekaligus fasilitas sosial lokal, serta naturalisasi bantaran kali. Melalui konsep hunian adaptif, proyek ini dapat menciptakan kampung yang bersahabat dengan air jika sewaktu-waktu datang.