p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Seni Grotesk Syafrudin Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.217

Abstract

Istilah grottesche atau grotesk digunakan untuk penggambaran iblis abad pertengahan sampai zaman kontemporer. Selanjutnya, segala sesuatu yang melampaui standar normalitas atau keindahan mendapat perlakuan istilah yang sama. Istilah grotesk kadang digunakan untuk merujuk pada seni secara umum, film, karakter, dan bahkan orang. Syafrudin, telah lama memilih gaya grotesk sebagai dasar dalam berkarya. Hal itu berhubungan dengan rasa keprihatinannya pada dunia anak-anak. Namun penggunaan gaya melukis grotesk di Indonesia tidak selalu menyeramkan. Kita melihat bagaimana gaya grotesk telah menyebabkan beberapa karya S. Sudjojono dan Sudjana Kerton menjadi jenaka.
Transformasi Kegiatan Seni dari Offline ke Digital: Kasus Lisa the Queen Cat Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.426

Abstract

Perkembangan teknologi internet dan era digital telah mendorong para seniman kontemporer untuk mentransformasikan praktik penciptaan seni dari medium fisik (offline) ke medium digital. Artikel ini mengkaji fenomena transformasi tersebut dengan memfokuskan studi kasus pada karya-karya pelukis Syakieb Sungkar, khususnya fiksional “Lisa the Queen Cat.” Melalui metode deskriptif-analitis, artikel ini mengekspresikan enam jalur roadmap transformasi digital bagi karakter Lisa, yang meliputi pembangunan semesta lukisan digital (digital painting universe), pengembangan karakter mitologis, motion art/video art, pameran virtual (virtual exhibition), pemanfaatan NFT/collectible digital, hingga perluasan visual berbasis AI (AI-assisted expansion). Hasil kajian menunjukkan bahwa arah estetik terbaik bagi transformasi karakter Lisa bukanlah gaya 3D hiperrealistis atau komersial, melainkan painterly digital surrealism yang tetap mempertahankan “roh” lukisan konvensional, ketidakteraturan puitis, serta atmosfer psikedeliknya. Transformasi ini membuktikan bahwa teknologi digital dan kecerdasan buatan tidak menggantikan eksistensi pelukis, melainkan sebagai ruang imajinasi tambahan untuk memperluas mitologi visual lintas medium.