Ferdy Hidayat,
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

BERTEOLOGI PUBLIK TERHADAP EKONOMI DAN EKOLOGI Studi Kasus: Penolakan Rencana Tambang LTJ oleh Masyarakat Salutambun di Kabupaten Mamasa Ferdy Hidayat,
LOKO KADA TUO: Jurnal Teologi Kontekstual dan oikumenis Vol. 1 No. 01 (2024): Maret 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI MAMASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70418/wt4wkn90

Abstract

Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan mengenai sikap teologi publik yang tercipta dalam penolakan rencana tambang LTJ dan polanya secara vertical dan horizontal. Dengan menggunakan alat analisis teologi publik dari Emanuel Gerrit Singgih, tulisan ini menemukan bahwa secara keseluruhan teologi publik yang dibangun dalam penolakan rencana tambang LTJ oleh masyarakat Salutambun telah memperlihatkan sikap kritis dan tidak anti struktur. Muatan ini selaras dengan teologi publik yang dirumuskan oleh Gerrith Singgih baik secara vertikal maupun secara horisontal. Secara vertikal, yang menyentuh tiga ranah teologi, yakni Theo-Logy/Spirituality memperlihatkan solidaritas masyarakat Salutambun menolak rencana tambang LTJ, menampilkan spiritualitas yang tak hanya terkurung dalam gedung gereja; Eklesiologi terlihat pada keberanian masyarakat Salutambun yang menampakkan identitasnya sebagai warga kerajaan Allah yang hendak mengubah ketidakadilan struktural dan terbuka dengan melakukan kerjasama dengan sejumlah elemen gerakan mahasiswa; Misiologi dinampakkan melalui praktik kongkrit Gereja Jemaat Elim Salutambun seperti gedung gereja yang ditempati untuk melakukan rapat dan majelis gereja mengupayakan akomodasi bagi masyarakat yang akan menyampaikan aspirasi penolakan rencana tambang LTJ. Secara horisontal, penolakan rencana tambang LTJ oleh masyarakat Salutambun, menunjukkan pemetaan tiga poros kekuasaan, yakni: Poros Negara adalah pemerintah, Poros Pasar adalah PT. Monazite San, dan Poros Komunitas adalah Masyarakat . Ditemukan bahwa terjadi ketidakseimbangan dalam tiga pilar civil society, dimana pasar dan komunitas berusaha menguasai satu sama lain. Pasar cenderung mengatur negara dan komunitas, begitu pula dengan komunitas yang ingin menonjolkan dominasinya melalui negosiasi dengan negara.