Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Eksplorasi Metode Al-Latif di Pondok Pesantren: Sebuah Strategi Baru Dalam Meningkatkan Kompetensi Baca Kitab Kuning Santri Modern Ahmad Nur Kholili
RAHMATAN LIL ALAMIN: Journal of Peace Education and Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitab kuning merupakan literatur pembelajaran khas Pondok Pesantren di Indonesia. Mempelajari kitab kuning sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi santri, karena membutuhkan pemahaman gramatika yang rumit. Karenannya, untuk memahami secara cepat dan tepat membutuhkan penggunaan metode pembelajaran yang juga tepat, salah satu metode yang digunakan adalah metode al-Latif. Metode al-Latif merupakan metode modern dalam mempelajari kitab kuning. Metode ini dikembangkan secara khusus untuk para santri pemula, di mana pemahaman kognisi mereka di asah agar mudah beradaptasi dalam memahami dan menerapkan kaidah-kaidah nahwu yang mereka pelajari. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan metode al-Latif pada santri modern yang relative baru dalam mempelajari kitab kuning secara cepat dan tepat. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Data penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi, wawancara dan catatan lapangan. Data di analisis menggunakan model campbell. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran al-Latif membutuhkan banyak persiapan. Karenanya membutuhkan strategi untuk mencapai tujuan dimaksud. Untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam hal pemahaman gramatika bahasa Arab, maka penerapan metode al-Latif  disertai dengan menggunakan sistem modul secara bersamaan. Sehingga dengan kombinasi tersebut hasil penelitian kami menemukan kompetensi bacaan kitab kuning santri dalam setiap minggunya mengalami peningkatan yang istimewa dan melebihi ekspektasi guru. Hal ini dibuktikan bahwa santri tidak hanya dapat membca kitab “gundul” (kitab tanpa harakat dan makna), tetapi sekaligus dengan tarkib (susunan) serta dalil-dalilnya.