Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemahaman Masyarakat tentang Hukum Tahlilan di Desa Letta-Tanah Kecematan Sibulue Kabupaten Bone: Perspektif 'Urf Gunawan, Veri; Muhammad Akmal, Andi
Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab VOLUME 3 ISSUE 2, MAY 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/shautuna.vi.25468

Abstract

Pokok masalah dalam artikel ini adalah bagaimana pemahaman masyarakat tentang Hukum Tahlilan. Adapun rumusan masalahnya, 1) Bagaimana Pemahaman Mayarakat Tentang Hukum Tahlilan di Desa Letta-Tanah, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, Provensi Sulawesi Selatan dalam Perspektif Urf? 2) Bagaimana Proses Tahlilan di Desa Letta-Tanah, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, Provensi Sulawesi Selatan? Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dimana penelitian yang mendeskripsikan serta memberi gambaran terhadap suatu objek yang diteliti sebagai sumber langsung dan instrument penelitian sendiri, yaitu penelitian merupakan perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis, serta penafsiran data, dan pada akhirnya menjadi laporan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Ketika orang meninggal kita harus mendoakannya, maka dengan tradisi tahlilan inilah kita Bersama-sama berdoa dan menjalin silaturahim, kebersamaan sesama ummat islam. Tahlilan adalah berniat mengirim pahala kepada mayyit dimohonkan kepada Allah SWT berbentuk ampunan, pembebasan dari api neraka, tolak bala, dengan begitu tahlilan dihayati sebagai bentuk kesolehan dan memberikan dampak positif dari bentuk sikologi. Dalam menghadiri pelaksanaan tahlilan masyarakat pun memiliki alasan yang berbeda-beda, sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan motivasi atau dorongan bagi masyarakat dalam menghadiri pelaksanaan tahlilan. Seperti, masyarakat lebih termotivasi untuk hadir dan mengikuti pelaksanaan tahlilan jika orang yang meninggal atau keluarga yang tertimpa musibah (yang ditinggal oleh salah satu anggota keluarganya) adalah temannya, keluarga temannya, atau bahkan seorang tokoh masyarakat. 2) Masyarakaat didesa letta-tanah mengikuti tahlilan dengan beragam tujuan seperti misalnya mendoakan orang meningeal, taqarruban ilallah (mengharap berkah dari allah) dengan mendoakan sesama muslim, mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir (membaca tahlil, tasbih, shalawat) selain itu ada juga masyarakaat yang mengikuti tahlilan untuk silaturahim. Pada tahun 2016 didesa letta-tanah tahlilan untuk orang meninggal masih rutin dilakasanakan pada hari-hari tertentu seperti tujuh hari setelah meninggal,empat puluh hari dan seratus hari namun setelah pergantian imam desa tahlilan didesa letta tanah untuk orang meningal sudah jarang dilaksanakan.’tahlilan untuk orang meninggal diganti dengan kegiatan Taziyah dan Barazanji dengan pertimbangan tahlilan bukan hal yang wajib untuk dilaksanakan dan akan lebih afdal apabila tahlilan diganti dengan Taziyah dan Barazanji”.
Legal Strength of Speech-Impaired Marriages in Makassar City from the Syafi'i School and KHI Perspectives Maqsurah, Ainil; Rahman R, Abd.; Muhammad Akmal, Andi
International Journal of Islamic Studies Vol 3 No 2 (2023): December
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ijis.v3i2.43342

Abstract

This article discusses the legal strength of speech-impaired marriages in Makassar City from the perspective of the Syafi'i schools and KHI. This article is a Field research using qualitative and descriptive research methods. The source of data in this research is field data in the form of interviews with instructors, those in charge of administration, the celebrant, the speech-impaired bride and the speech-impaired bride's family. The data collection methods used were observation, interviews and documentation. Then, data processing and analysis techniques are carried out through three stages, namely: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that the legal force for speech-impaired marriages in Makassar City is based on Law Number 1 of 1974 concerning Marriage which regulates marriage provisions. As for marriages with speech impairments, it has been determined in KHI Book I concerning Marriage in Article 17 paragraph (3) and this has compatible with Shafi'i madhhab. Implementation of marriage requirements in Makassar City based on PMA Number 20 of 2019 Article 10 paragraph (2) explains that marriage pillars that have been approved for implementation include the prospective husband, prospective wife, guardian, two witnesses and the consent. This requirement is also stated in KHI book I concerning Marriage Law, Chapter IV concerning the pillars and conditions of marriage, article 14, and then explained in the following articles regarding the requirements and detailed legal explanations. Based on this research, it was found that the terms and conditions were in line with The pillars and conditions that put forward by the Syafi'i school of thought. The practice of marriage contracts taking place in Makassar City refers to the Compilation of Islamic Law article 27 as well as the Regulation of the Minister of Religion of the Republic of Indonesia Number 20 of 2019 article 15. These regulations implemented are in line with several requirements for marriage contracts explained in the Shafi'i school of thought.