Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Manusia Egois: Max Stirner Khanan Saputra
Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol 3 No 1 (2024): Januari : Inovasi : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/inovasi.v3i1.2503

Abstract

Max Stirner merupakan seorang pencetus konsep egoisme. Dan dirinya bisa dibilang pendahulu dari para eksistensialis lainnya seperti Friedrich Nietzche dan Jean Paul Sartre. Namun sampai sekarang pembicaraan mengenai konsepsi dan pemikiran dari Max Stirner masih sangat kurang dibandingkan dengan pembicaraan para filsuf eksistensialis lainnya. Max Stirner sendiri mencetuskan bagaimana manusia kembali ke bentuk asalnya sebagai individu, dan dari gambaran individu ini muncul gambaran mengenai individu sebagai subjek yang diistilahkan dengan Sang Unik. Dari kurangnya pembicaraan mengenai Max Stirner tersebut membuat penulis memiliki ketertarikan untuk mengkaji bagaimana konsep manusia egois menurut Max Stirner. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, yang dari metode tersebut penulis mengambil data primer dan data sekunder. Dari rumusan masalah tersebut menghasilkan jawaban bahwa untuk menjadi individu Sang Unik, seseorang harus melepaskan nilai yang lebih yang mengikat pada dirinya, sebab Sang Uniklah pembuat nilai sejati untuk dirinya sendiri. Nilai yang lebih tersebut seperti: norma, asusila, negara, agama, dan nilai lebih yang memunculkan dominasi terhadap individu. Sedangkan relasinya dengan orang lain, Sang Unik sendiri tidak menutup kemungkinan untuk berinteraksi dengan dunia luar, sebab dari situ Sang Unik bisa mengukur eksistensialismenya. Namun relasinya dengan yang lain hanyalah sebatas sejauh mana hal itu menguntungkan bagi Sang Unik. Dalam hal ini Stirner lebih menganjurkan pembentukan Persatuan Para Egois yang di dalamnya merupakan para individu egois yang memiliki kepentingannya masing-masing untuk menciptakan nilai lebih dengan kendalinya masing-masing.
Manusia Egois: Max Stirner Khanan Saputra
Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2024): Januari : Inovasi : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/inovasi.v3i1.2503

Abstract

Max Stirner merupakan seorang pencetus konsep egoisme. Dan dirinya bisa dibilang pendahulu dari para eksistensialis lainnya seperti Friedrich Nietzche dan Jean Paul Sartre. Namun sampai sekarang pembicaraan mengenai konsepsi dan pemikiran dari Max Stirner masih sangat kurang dibandingkan dengan pembicaraan para filsuf eksistensialis lainnya. Max Stirner sendiri mencetuskan bagaimana manusia kembali ke bentuk asalnya sebagai individu, dan dari gambaran individu ini muncul gambaran mengenai individu sebagai subjek yang diistilahkan dengan Sang Unik. Dari kurangnya pembicaraan mengenai Max Stirner tersebut membuat penulis memiliki ketertarikan untuk mengkaji bagaimana konsep manusia egois menurut Max Stirner. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, yang dari metode tersebut penulis mengambil data primer dan data sekunder. Dari rumusan masalah tersebut menghasilkan jawaban bahwa untuk menjadi individu Sang Unik, seseorang harus melepaskan nilai yang lebih yang mengikat pada dirinya, sebab Sang Uniklah pembuat nilai sejati untuk dirinya sendiri. Nilai yang lebih tersebut seperti: norma, asusila, negara, agama, dan nilai lebih yang memunculkan dominasi terhadap individu. Sedangkan relasinya dengan orang lain, Sang Unik sendiri tidak menutup kemungkinan untuk berinteraksi dengan dunia luar, sebab dari situ Sang Unik bisa mengukur eksistensialismenya. Namun relasinya dengan yang lain hanyalah sebatas sejauh mana hal itu menguntungkan bagi Sang Unik. Dalam hal ini Stirner lebih menganjurkan pembentukan Persatuan Para Egois yang di dalamnya merupakan para individu egois yang memiliki kepentingannya masing-masing untuk menciptakan nilai lebih dengan kendalinya masing-masing.
THE CHILDFREE PHENOMENON IN JAPAN: AN ANALYTICAL STUDY FROM A CONTEMPORARY ISLAMIC LEGAL PERSPECTIVE Khanan Saputra; Noor Kholifah Hidayati
al-Mawarid Jurnal Syariah dan Hukum (JSYH) Vol. 7 No. 2 (2025): al-Mawarid Jurnal Syariah dan Hukum (JSYH)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/mawarid.vol7.iss2.art4

Abstract

Purpose – This study aims to explore the childfree phenomenon prevalent in Japan. From year to year, Japan continues to experience a decline in birth rates, which makes it an interesting country to study. From the phenomenon occurring in Japan, the author also wants to find out how the childfree issue is becoming more widespread in Japan, how Islamic law responds to this issue, and how ethics views it. Methods – This research uses the literature study research method, so this research is complemented by various pre-existing sources and thus can strengthen the data. The research data were obtained from books, articles, and other writings related to the topic of the problem. Findings – Japan has experienced a decline in birth rates since the 1970s, which has been exacerbated by the emergence of the childfree trend among the younger generation. Economic factors are the reason many young people choose not to have children. In addition, philosophical views related to living a freer life without traditional pressures or social norms that demand a brilliant life, which creates its own burden, also influence this decision. In Islamic law, the practice of childfree by aborting a fetus after four months of pregnancy is prohibited. However, Islam itself is a religion that respects the sanctity of children, as children are the next generation who will become Khalifah on this earth. Research contribution/limitations – This study’s results provide insight into the childfree phenomenon that is rampant in Japan from the perspective of Islamic law. However, this research also has limitations, as the method used is limited to a literature study without going directly to the field. Originality/value – This research adds references related to childfree from the perspective of Islamic law, where childfree itself is a contemporary study whose practices have been rampant; therefore, Islamic law also offers answers.